DEMOKRASINEWS,Lampung Utara, 19 Juli 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan seiring dimulainya tahun ajaran baru. Di Pasar Sentral Kotabumi, Lampung Utara, sejumlah harga bahan pangan mengalami kenaikan. Namun, di tengah tren tersebut, para pedagang justru mengeluhkan menurunnya daya beli masyarakat yang berdampak pada merosotnya omzet dan keuntungan.
Pantauan di Pasar Sentral Kotabumi, Minggu (19/7/2026), menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas hortikultura. Harga wortel naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per kilogram. Timun melonjak dari Rp6.000 menjadi Rp20.000 per kilogram, sementara buncis naik dari Rp10.000 menjadi Rp20.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas lainnya. Harga bawang putih meningkat dari Rp40.000 menjadi Rp45.000 per kilogram, sedangkan bawang merah masih bertahan di kisaran Rp40.000 per kilogram. Harga telur ayam yang sebelumnya sempat turun ke Rp25.000 per kilogram kini kembali naik menjadi sekitar Rp28.000 per kilogram.

Sementara itu, harga beras premium mulai mengalami penyesuaian. Beras premium merek Udang SJ ukuran lima kilogram yang sebelumnya dijual Rp76.000 kini naik menjadi Rp78.000. Secara umum, harga beras premium mengalami kenaikan sekitar Rp200 hingga Rp400 per kilogram.
Harga daging ayam potong juga meningkat sekitar Rp4.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya.
Mardalena, pedagang sayuran di Pasar Sentral Kotabumi, mengatakan kenaikan harga mulai dirasakan sejak Program Makan Bergizi Gratis kembali dilaksanakan di sekolah-sekolah. Menurutnya, meningkatnya permintaan bahan pangan mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang.
“Yang naik itu wortel, timun, buncis, bawang putih, telur sampai daging ayam potong. Sejak MBG mulai lagi, permintaan meningkat dan harga ikut naik,” kata Mardalena.
Meski demikian, kenaikan harga tersebut tidak diikuti peningkatan pendapatan pedagang. Menurut Mardalena, jumlah pembeli eceran justru menurun karena masyarakat mengurangi belanja akibat harga yang semakin tinggi.
“Pembeli sekarang sepi. Daya beli masyarakat turun karena harga naik. Kami justru tidak menikmati kenaikan harga itu,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Wati, pedagang sayuran lainnya. Ia mengaku keuntungan usahanya turun drastis sejak program MBG kembali berjalan.
Dengan modal berjualan sekitar Rp500.000 per hari, Wati kini hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp50.000 hingga Rp75.000 per hari. Dari jumlah tersebut, ia masih harus membayar biaya operasional, seperti uang salar dan kebersihan sekitar Rp7.000. Padahal, saat program MBG belum berjalan atau selama masa libur sekolah, keuntungan hariannya dapat mencapai sekitar Rp250.000.
“Dulu saat MBG libur, keuntungan bisa sampai Rp250 ribu sehari. Sekarang paling Rp50 ribu sampai Rp75 ribu. Pembeli eceran jauh berkurang. Belum lagi dipotong uang salar, kebersihan, dan biaya lainnya,” kata Wati.
Menurut para pedagang, meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis memang mendorong permintaan dalam jumlah besar. Namun, kondisi tersebut dinilai belum memberikan dampak positif bagi pedagang pasar tradisional karena sebagian besar transaksi dilakukan melalui pemasok atau pembelian dalam skala besar, sementara konsumen rumah tangga justru mengurangi belanja akibat kenaikan harga.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok agar daya beli masyarakat kembali pulih. Mereka menilai aktivitas perdagangan di pasar tradisional akan kembali bergairah apabila harga pangan berada pada tingkat yang lebih terjangkau.
“Kami berharap harga kembali normal supaya masyarakat mau belanja lagi dan perdagangan di pasar bisa hidup,” ujar Mardalena.( Red/JM )











