DEMOKRASINEWS, Jakarta – Video yang menampilkan paket menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi lele mentah di SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur, viral di media sosial. Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi dan menyebut video tersebut hanya menampilkan sebagian menu yang disiapkan oleh penyedia program.
Penolakan paket makanan program Makan Bergizi Gratis terjadi pada Senin (9/3/2026) di SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur. Pihak sekolah menolak distribusi sebanyak 1.022 porsi makanan yang dikirim dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penolakan dilakukan setelah ditemukan menu lele mentah yang dimasukkan dalam satu wadah bersama tempe dan tahu. Pihak sekolah menilai kondisi tersebut tidak layak untuk langsung dikonsumsi oleh siswa.
Selain menimbulkan bau amis, keberadaan ikan mentah dalam satu kemasan dikhawatirkan dapat merusak makanan lain serta berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi para siswa.
Video penolakan tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan bahwa menu yang disiapkan sebenarnya tidak hanya berisi lele.
Menurutnya, paket makanan MBG yang disiapkan oleh SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan terdiri dari beberapa menu, yaitu lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, menu yang disiapkan sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket makanan dari kendaraan distribusi,” kata Nanik dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
BGN juga menjelaskan bahwa lele yang dipermasalahkan bukanlah ikan mentah biasa, melainkan lele yang telah dimarinasi.
Menurut Nanik, menu tersebut dirancang agar bisa dibawa pulang oleh siswa selama bulan Ramadan untuk dimasak saat berbuka puasa atau sahur.
“Lele dimarinasi supaya bisa dibawa pulang dan dijadikan lauk saat buka puasa,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (11/3/2026).
Ia menambahkan, dalam kondisi normal pembagian makanan MBG seharusnya dilakukan setiap hari dan tidak boleh dirapel. BGN juga mengaku telah memberikan teguran kepada pihak SPPG terkait mekanisme distribusi tersebut.
“Kalau setiap hari anak-anak masuk sekolah, pemberian MBG tidak boleh dirapel. Kami sudah menegur Kepala SPPG,” kata Nanik.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, Fikri Kuttawakil, menjelaskan penggunaan lele marinasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek gizi dan ketahanan pangan.
Menurutnya, proses marinasi dapat membantu menjaga kandungan protein sekaligus memperpanjang daya tahan makanan hingga satu hari.
“Kenapa kami menggunakan lele marinasi? Pertama untuk menjaga kandungan gizi dan menambah protein pada menu hari itu. Dengan dimarinasi, lele juga bisa bertahan hingga satu hari,” jelas Fikri.
SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan diketahui melayani 3.329 penerima manfaat, yang terdiri dari siswa SMA, SMK, MA, SMP, MTs, PAUD, TK, SLB, tenaga pendidik, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah tersebut.
BGN menegaskan bahwa seluruh menu dalam program Makan Bergizi Gratis disusun dengan memperhatikan keseimbangan gizi dan standar keamanan pangan. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan proses penyiapan hingga distribusi makanan berjalan sesuai standar.
“Program MBG menempatkan keamanan pangan dan kualitas gizi sebagai prioritas utama. Kami terus melakukan pemantauan dan evaluasi agar proses penyiapan hingga distribusi berjalan sesuai standar,” ujar Nanik.( Red/Rls Sipers-Biro Hukum dan Humas BGN )











