DEMOKRASINEWS, Makkah,14 Mei 2026 — Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jamaah haji Indonesia memanfaatkan waktu dengan mengikuti kegiatan pengajian dan pembinaan rohani. Kegiatan ini menjadi sarana untuk menjaga semangat ibadah sekaligus memperkuat kesiapan mental, spiritual, dan fisik para jamaah.
Dalam tausiyah pengajian pra Armuzna, KH. Safari mengingatkan jamaah agar mengisi masa penantian menuju puncak haji dengan kegiatan yang berkualitas dan bernilai ibadah.
Menurutnya, setelah melaksanakan umrah wajib, bahkan ada jamaah yang telah menunaikan umrah sunnah hingga dua sampai tiga kali secara mandiri, ada tiga hal penting yang harus dijaga agar ibadah tetap bernilai mabrur.

Pertama, menjaga kemabruran pasca umrah dengan menghindari tiga larangan utama dalam ibadah haji dan umrah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 197, yakni rafats, fusuq, dan jidal.
“Rafats mencakup perkataan jorok, tidak senonoh, hingga hubungan suami-istri saat ihram. Fusuq adalah segala bentuk kemaksiatan atau pelanggaran terhadap aturan Allah, sedangkan jidal berarti berbantah-bantahan atau perdebatan yang tidak bermanfaat,” jelas KH. Safari.
Ia menegaskan bahwa ketiga hal tersebut dapat mengurangi nilai ibadah dan mengganggu kekhusyukan jamaah selama berada di Tanah Suci.
Kedua, jamaah diminta mengisi waktu dengan quality time bernilai ibadah seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan melakukan kebaikan kepada sesama. Menurut KH. Safari, aktivitas tersebut menjadi cara terbaik menjaga hati agar terhindar dari perilaku yang dapat merusak kemabruran haji dan umrah.
“Berbekallah dengan takwa, bukan sekadar uang atau makanan. Takwa itu menerima segala sesuatu dalam keadaan apa pun,” ujarnya.
Ia mencontohkan ujian kesabaran sederhana yang sering ditemui jamaah sehari-hari, seperti antrean lift hotel yang panjang, interaksi dengan teman sekamar, maupun aktivitas di lingkungan pemondokan. Menurutnya, situasi tersebut dapat menjadi ladang pahala apabila dihadapi dengan ikhlas dan sabar.
“Bisa jadi itu cara Allah menguji kesabaran kita. Cobaan sekecil apa pun bisa bernilai pahala jika diterima dengan hati yang sabar,” tambahnya.
Ketiga, KH. Safari mengingatkan jamaah agar menjaga kondisi fisik karena puncak ibadah haji masih berlangsung sekitar dua minggu lagi. Ia menyebut pelaksanaan umrah sebelumnya sebagai “pemanasan” sebelum menghadapi rangkaian ibadah utama di Armuzna.
“Ingat, setiap napas kita di Tanah Haram, doa, zikir, dan tadarus akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT,” katanya.
Sementara itu, KH. Purna menambahkan bahwa jamaah tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berhaji yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan. Ia mengingatkan panjangnya masa tunggu haji yang mencapai belasan tahun, perjalanan panjang menuju Arab Saudi, biaya besar, hingga pengorbanan meninggalkan keluarga di Tanah Air.
“Kalau pulang haji lalu ingin mendaftar lagi, mungkin harus menunggu hingga 20 tahun berikutnya. Maka gunakan kesempatan ini untuk memperbanyak amal baik selama di Tanah Haram,” ujarnya.
Menurut KH. Purna, Imam Ghazali membagi kebaikan menjadi tiga, yaitu baik menurut diri sendiri, baik menurut orang lain, dan baik menurut Allah SWT.
“Baik menurut diri sendiri dan menurut orang lain belum tentu baik menurut Allah. Maka lakukanlah apa yang baik menurut Allah,” pesannya.
Pada kesempatan yang sama, dokter kloter, dr. Andhika Arie Prasetya, mengingatkan jamaah untuk menjaga kesehatan, terutama saat melakukan aktivitas luar ruangan di tengah cuaca panas Arab Saudi.
Ia mengimbau jamaah untuk rutin minum air putih tanpa menunggu haus, minimal setiap satu jam sekali, serta menggunakan oralit, masker, payung, dan kacamata hitam sebagai alat pelindung diri.
“Utamakan ibadah dan perbanyak kegiatan indoor agar kondisi fisik tetap terjaga menjelang puncak haji,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kloter Winardi menyampaikan bahwa pembayaran dan penyembelihan dam (denda) haji wajib dilakukan melalui saluran resmi pemerintah Arab Saudi guna menjamin keabsahan dan penyalurannya.
Menurutnya, lembaga resmi yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi untuk pengelolaan dam dan kurban jamaah haji adalah Proyek Adahi.
“Uang dam jamaah Kloter JKG 7 seluruhnya sudah diserahkan kepada Adahi. Dengan demikian tanggung jawab panitia terkait penyembelihan dam telah dialihkan kepada lembaga resmi tersebut,” kata Winardi.
Pengajian pra Armuzna ini menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan hanya soal ritual fisik, tetapi juga perjalanan menjaga hati, kesabaran, kesehatan, dan keikhlasan menuju haji yang mabrur.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











