DEMOKRASINEWS, Bandarlampung, 20 Juni 2026 – Kabut pagi masih menggantung tipis ketika sinar matahari mulai menguning dan menembus sela-sela pepohonan serta dinding rumah di Perumahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung. Hari baru dimulai. Di tengah suasana yang perlahan ramai, terdengar suara para pedagang menawarkan dagangan mereka, mulai dari sayuran segar, bumbu dapur, hingga aneka kebutuhan rumah tangga.
Aroma khas hasil kebun yang baru dipanen terbawa angin pagi. Warga yang berjalan kaki atau bersepeda tampak singgah satu per satu. Mereka tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga untuk bertemu tetangga, berbincang, dan mempererat hubungan sosial yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia.
Di tengah gencarnya pembangunan pusat perbelanjaan modern yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan transaksi, sebuah fenomena menarik justru tumbuh dari lingkungan warga. Sebuah taman bermain anak-anak di Jalan Banowati, Perumahan Beringin Raya, Kelurahan Beringin Raya, disulap menjadi pasar rakyat setiap pagi oleh masyarakat setempat.
Pasar yang tumbuh atas semangat kebersamaan itu menjadi bukti bahwa pasar tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Tidak sekadar menjadi lokasi jual beli, pasar rakyat berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai lapisan warga dalam suasana yang hangat dan akrab.
Menurut salah seorang warga, Cak Tholib, pasar tersebut beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Setelah aktivitas perdagangan selesai, area tersebut kembali difungsikan sebagaimana mestinya sebagai taman bermain anak-anak dan ruang terbuka bagi warga.
“Setelah tengah hari, tempat ini kembali menjadi taman. Anak-anak bisa bermain seperti biasa,” ujarnya.
Beragam komoditas tersedia di pasar pagi tersebut. Mulai dari sayuran segar, bumbu dapur, ikan segar, aneka kue tradisional, hingga sate yang siap disantap. Kehadiran pasar ini memudahkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi jauh ke pusat kota atau pasar besar.
Menariknya, para pedagang yang berjualan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Sejumlah pedagang datang dari daerah lain, termasuk dari Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Kehadiran mereka memperkaya pilihan barang dagangan sekaligus memperluas jaringan ekonomi masyarakat setempat.
Lokasi pasar yang berada di dalam kompleks perumahan juga memberikan nilai tambah tersendiri. Selain mudah dijangkau warga, keberadaannya yang berdekatan dengan Masjid Al Huda menjadikan kawasan tersebut semakin hidup sebagai pusat aktivitas masyarakat pada pagi hari.
Fenomena Pasar Pagi Banowati menunjukkan bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan secara kreatif dan produktif tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Di saat banyak orang beranggapan bahwa pasar tradisional akan tergeser oleh modernisasi, warga Kemiling justru membuktikan sebaliknya. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, mereka menghadirkan pasar rakyat yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga menjaga tradisi silaturahmi di tengah kehidupan perkotaan yang semakin dinamis.
Pasar rakyat ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan gedung megah dan fasilitas modern. Terkadang, kekuatan sebuah komunitas justru lahir dari ruang sederhana yang mampu mempertemukan manusia, menghidupkan ekonomi lokal, dan mempererat hubungan sosial antarwarga.( Red/AMT)











