DEMOKRASINEWS, Bandar Lampung,19 Juni 2026 – Di lingkungan birokrasi Lampung, nama Abdul Muthalib mungkin tidak banyak dikenal publik luas. Ia bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh yang sering tampil di ruang-ruang utama pemerintahan. Namun, perjalanan hidupnya menyimpan kisah inspiratif tentang ketekunan, kerja keras, dan pendidikan yang ditempuh tanpa mengenal batas usia.
Abdul Muthalib lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 16 Oktober 1961. Masa remajanya dihabiskan dengan merantau ke Lampung pada 1974 bersama bibinya, membantu mengasuh anak di keluarga tersebut. Dari perjalanan sederhana itu, ia memulai babak panjang kehidupannya.
Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Abdul Muthalib menjalani berbagai pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup. Ia berjualan koran, buku teka-teki silang, dan kipas bambu di berbagai lokasi, termasuk di sekitar Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek, Tanjungkarang.

Di tengah aktivitas itu, ia juga kerap menjadi pemulung barang bekas untuk menambah penghasilan. Besi tua, botol, dan barang rongsokan lain menjadi sumber rezeki yang ia kumpulkan dengan penuh kesabaran.
Semua itu dijalani dengan satu tujuan sederhana: memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara halal.
Titik balik kehidupannya terjadi pada 1981 ketika ia melihat peluang menjadi pegawai di Kantor Wilayah Departemen Penerangan Provinsi Lampung. Dengan bermodal ijazah SD dan SMP, ia memberanikan diri melamar pekerjaan tersebut.
Keberuntungan berpihak kepadanya. Ia diterima sebagai pegawai dan ditempatkan sebagai pesuruh kantor dengan golongan I/B. Meski berada pada posisi paling dasar dalam struktur birokrasi, pekerjaan itu menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya.
Di tengah tugasnya sebagai pesuruh, Abdul Muthalib tidak berhenti belajar. Ia melanjutkan pendidikan hingga lulus SMA, kemudian melanjutkan studi ke Universitas Terbuka hingga meraih gelar sarjana.
Perjalanan pendidikannya berlangsung panjang dan penuh pengorbanan. Ia belajar di sela-sela pekerjaan, bahkan ketika banyak orang seusianya mulai memasuki masa istirahat. Gelar sarjana itu akhirnya ia peroleh ketika sudah memiliki cucu dan menjelang masa pensiun.
Pendidikan tersebut berpengaruh besar terhadap kariernya. Dari golongan I/B, ia naik ke II/B setelah menyelesaikan pendidikan menengah, dan kemudian meningkat ke III/A setelah menyandang gelar sarjana.
Perjalanan kariernya turut dipengaruhi perubahan struktur birokrasi nasional. Setelah pembubaran Departemen Penerangan pada 1999, ia dipindahkan ke Biro Humas Pemerintah Provinsi Lampung yang kemudian berkembang menjadi Dinas Informasi dan Komunikasi.
Di instansi tersebut, ia meniti karier sebagai Pranata Humas Fungsional hingga akhirnya dipercaya menjalankan tugas di Komisi Informasi Provinsi Lampung pada 2016 sebagai Panitera Pengganti. Jabatan itu menuntut ketelitian tinggi dalam mengelola administrasi penyelesaian sengketa informasi publik.
Dari posisi awal sebagai pesuruh kantor hingga menjadi bagian dari lembaga yang mengawal keterbukaan informasi publik, perjalanan Abdul Muthalib mencerminkan transformasi sosial yang jarang terjadi.
Dalam setiap tahap kehidupannya, ia memegang prinsip sederhana: “Kerja cerdas, ikhlas, dan tuntas.”
Prinsip itu menjadi pegangan yang ia jalani selama puluhan tahun pengabdian. Bekerja dengan cerdas agar efektif, dengan ikhlas agar tidak menjadi beban, dan dengan tuntas agar memberi hasil yang nyata.
Ketekunan tersebut membawanya mencapai pangkat IV/B sebelum memasuki masa pensiun pada tahun 2020. Jika dihitung sejak awal bekerja, pengabdiannya berlangsung hampir 40 tahun.
Di balik perjalanan panjang itu, terdapat dukungan keluarga yang setia mendampingi. Ia menikah dengan Partiyemi Yati pada 1981 dan dikaruniai lima anak yang menyaksikan langsung perjuangan hidup ayah mereka dari masa sulit hingga masa pengabdian.
Kisah Abdul Muthalib menunjukkan bahwa mobilitas sosial dapat tumbuh dari kerja keras, pendidikan, dan konsistensi dalam belajar sepanjang hayat. Dari penjual kipas bambu hingga aparatur negara di lembaga informasi publik, ia membuktikan bahwa perubahan hidup selalu mungkin diraih melalui ketekunan yang berkelanjutan. Kini Abdul Muthalib sudah paripurna menjadi abdi negara dan kini menghabiskan masa tuanya bersama keluarga.
Kisah perjalanan Abdul Muthalib menjadi inspirasi kita semua keterbatasan pendidikan karena faktor ekonomi tidak harus berputus asa, namun menjadi penyemangat dan motivasi terus bangkit meraih masa depan. Meskipun dimana kondisi ekonomi sekarang sedang bergejolak,namun ini sebuah tantangan tetap harus bersemangat dan selalu berjuang untuk perbaikan masa depan.
Oleh: Majid Lintang
( Red/A.Mutholib/Prie)











