DEMOKRASINEWS, Makkah, 10 Mei 2026 — Setelah menyelesaikan ibadah umrah kedatangan dari Madinah, para jamaah haji Indonesia kini memiliki waktu yang cukup panjang sebelum memasuki puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Waktu jeda tersebut biasanya dimanfaatkan jamaah untuk memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, melaksanakan umrah sunnah, mengikuti city tour religi, hingga berburu kuliner dan kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional sekitar hotel.
Salah satu aktivitas yang banyak dilakukan jamaah Indonesia melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) adalah mengambil miqat untuk umrah sunnah di Masjid Tan’im atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Aisyah.

Lokasinya sekitar 7 kilometer dari Masjidil Haram dan menjadi tempat miqat terdekat di Kota Makkah. Jamaah juga dapat melaksanakan miqat secara mandiri menggunakan taksi dengan biaya sekitar 50 riyal Saudi untuk 4–5 orang.
Makkah bukan hanya pusat ibadah umat Islam dunia, tetapi juga kota yang menyimpan jejak sejarah perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, banyak jamaah mengikuti city tour religi untuk memperluas wawasan spiritual sekaligus menambah pemahaman sejarah Islam.
Jabal Nur menjadi salah satu destinasi paling favorit jamaah. Di gunung inilah terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.
Untuk mencapai gua, jamaah harus mendaki ratusan anak tangga dengan medan cukup terjal. Meski melelahkan, suasana spiritual dan panorama Kota Makkah dari ketinggian memberikan pengalaman yang sangat berkesan.
Selanjutnya gunung bersejarah ini menjadi tempat persembunyian Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. saat hijrah ke Madinah untuk menghindari kejaran kaum Quraisy.
Di Gua Tsur inilah terjadi peristiwa luar biasa ketika sarang laba-laba dan burung merpati menjadi tanda perlindungan Allah SWT sehingga musuh tidak menemukan keberadaan Rasulullah SAW.
Selanjutnya Arafah merupakan tempat paling penting dalam ibadah haji karena menjadi lokasi pelaksanaan wukuf, salah satu rukun haji yang tidak dapat digantikan.
Di kawasan ini terdapat Jabal Rahmah, bukit yang diyakini sebagai tempat bertemunya Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa setelah terpisah lama. Banyak jamaah memanfaatkan kesempatan untuk berdoa dan merenungkan perjalanan hidup.
Kemudian kawasan Mina dikenal dengan lautan tenda putih yang digunakan jamaah saat mabit dan melontar jumrah. Tempat ini mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Sementara itu, Muzdalifah menjadi tempat jamaah mengumpulkan batu kerikil untuk pelaksanaan lontar jumrah. Kawasan ini menyimpan makna ketaatan dan persiapan spiritual dalam rangkaian ibadah haji.
Dari kejauhan tampak pula terowongan Mina yang pernah menjadi lokasi musibah besar pada masa lalu, mengingatkan pentingnya disiplin dan keselamatan jamaah selama pelaksanaan haji.
Gunung yang berada tidak jauh dari Masjidil Haram ini diyakini sebagai lokasi mukjizat terbelahnya bulan yang diperlihatkan Nabi Muhammad SAW kepada kaum Quraisy.
Selain nilai sejarahnya, Jabal Abu Qubais juga menawarkan pemandangan indah yang menghadap langsung ke kawasan Masjidil Haram.
Selain wisata religi, aktivitas belanja menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian jamaah, khususnya kaum ibu.
Pasar tradisional seperti Souq Al-Hijaz dan Souq Al-Sagheer selalu ramai dikunjungi. Di tempat ini jamaah dapat membeli kurma, sajadah, parfum Arab, gamis, peci, hingga aneka oleh-oleh khas Timur Tengah.
Tak hanya itu, “pasar bubar” atau pasar kaget yang muncul di sekitar hotel jamaah Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri.
Pasar ini biasanya hadir pada waktu-waktu tertentu dan menjual berbagai kebutuhan sederhana mulai dari bakwan, bakso, donat, buah-buahan, kentang, telur, hingga perlengkapan ibadah dan mainan anak-anak.
Suasana pasar yang akrab membuat banyak jamaah merasa seperti berada di kampung halaman sendiri.
Namun di tengah keramaian itu, jamaah tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap barang bawaan.
Ketua Kloter JKG 7, Winardi, mengimbau jamaah agar selalu menjaga tas dan dompet saat beribadah maupun berbelanja.
“Gunakan tas selempang di bagian depan badan. Untuk ibu-ibu sebaiknya dompet disimpan lebih aman di dalam jilbab atau tas tertutup. Saat naik bus maupun kembali ke hotel, periksa kembali barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal,” ujarnya.
Pembimbing ibadah Kloter JKG 7, Safari, juga mengingatkan jamaah agar memperbanyak dzikir, bersyukur, dan menjaga ucapan selama berada di Tanah Suci.
“Di Tanah Haram, ucapan bisa menjadi doa. Karena itu perbanyak berkata baik dan menjaga hati,” pesannya kepada jamaah.
Di tengah perjalanan menuju Arafah, jamaah juga dapat melihat ribuan pohon rindang yang dikenal dengan sebutan “Pohon Soekarno” atau Syajaroh Soekarno.
Pohon-pohon tersebut merupakan jenis mindi atau mimba yang ditanam sebagai bagian penghijauan atas usulan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1955.
Kini, pohon-pohon itu menjadi peneduh penting bagi jutaan jamaah haji dari berbagai negara yang beraktivitas di kawasan Arafah, Makkah, hingga Madinah.
Perjalanan di Kota Suci Makkah akhirnya bukan hanya menjadi pengalaman ibadah semata, tetapi juga perjalanan batin yang mempertemukan sejarah, spiritualitas, budaya, dan nilai kemanusiaan dalam satu tempat yang penuh keberkahan.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











