DEMOKRASINEWS, Mekkah, Senin 12 Mei 2026 — Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah dilupakan oleh rombongan KBIHU Safir Madina. Di bawah langit Kota Suci Mekkah, puluhan karu dan karom berkumpul dengan satu harapan besar: mencium Hajar Aswad, batu suci yang menjadi impian jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Khairul Ikhsan, owner KBIHU Safir Madina, akhirnya menepati janji yang pernah disampaikannya saat pengarahan jamaah di Bandar Lampung.
“Nanti kita akan cari waktu yang tepat untuk karom dan karu di bawah panji Safir Madina untuk mencium Hajar Aswad,” ucap Ikhsan kala itu.
Janji tersebut benar-benar diwujudkan pada Senin malam, 12 Mei 2026, tepat pukul 22.00 WAS. Dengan mengenakan pakaian ihram dan dalam keadaan suci, para jamaah berkumpul di lobi hotel sebelum bersama-sama menaiki bus shalawat nomor 18 menuju Masjidil Haram.
Raut wajah tegang terlihat jelas dari para jamaah. Di sela perjalanan, sesekali terdengar canda ringan untuk mencairkan suasana. Ketegangan itu sangat wajar. Mereka membayangkan padatnya manusia yang bertawaf dan perjuangan untuk bisa mendekati Hajar Aswad.
Namun pengalaman berbicara.
“Ketenangan akan memberikan semangat. Semua bisa dilakukan asal yakin, bersungguh-sungguh, dan bekerja secara tim,” ujar Ikhsan memberi keyakinan.
Sesampainya di depan Ka’bah, Ikhsan mengajak seluruh jamaah melaksanakan salat hajat dua rakaat.
“Kita mohon kepada Allah SWT agar dimudahkan mencium Hajar Aswad. Karena sesungguhnya disunnahkan untuk menciumnya, mengusapnya, atau melambaikan tangan ke arahnya,” terang Ikhsan.
Usai salat, strategi mulai disusun. Enam pemuda bertubuh besar dan kuat dipilih menjadi tim pertama untuk membuka jalan.
Arahan Ikhsan singkat namun tegas.
“Kalau sudah berhasil mencium Hajar Aswad, segera mundur dan bantu jamaah lain. Jangan terlalu lama.”
Di antara rombongan tampak pula Winardi, Ketua Kloter JKG 7, yang turut membersamai perjuangan jamaah.
Perjalanan menuju sudut Hajar Aswad menjadi kisah tersendiri. Dari Pintu Umrah, rombongan perlahan mengikuti arus tawaf. Sedikit demi sedikit mereka merapat ke dinding Ka’bah.
Di titik inilah perjuangan sesungguhnya dimulai.
Dorongan demi dorongan tidak terhindarkan. Tubuh saling berhimpitan. Tenaga dan mental benar-benar diuji. Namun Ikhsan terus memberi arahan.
“Jangan dilawan. Tahan posisi. Pegang dinding dan hemat tenaga,” pintanya.
Keringat bercucuran di tengah malam Mekkah. Napas tersengal-sengal. Namun semangat tidak surut sedikit pun. Sesekali jamaah mendongak ke atas untuk mengambil napas panjang sebelum kembali berjuang.
Alhamdulillah, tim pertama berhasil mencium Hajar Aswad.
Mereka yang telah berhasil kemudian kembali membantu rekan-rekan lainnya agar mendapatkan kesempatan yang sama. Perlahan, satu per satu jamaah akhirnya berhasil mencium batu suci tersebut.
Malam penuh perjuangan itu meninggalkan cerita yang berbeda bagi setiap jamaah.
Afan, salah seorang jamaah, mengungkapkan pengalaman itu sebagai perjalanan hidup yang luar biasa.
“Ini adalah one trip one life. Pengalaman sepanjang hidup yang belum tentu terulang kembali,” katanya penuh haru.
Cerita lain datang dari seorang pemuda bertubuh kecil yang beberapa kali terpental ke belakang akibat desakan jamaah. Namun semangatnya tidak pernah padam hingga akhirnya berhasil mencium Hajar Aswad.
Sementara itu, Rafif Endi, remaja bertubuh besar yang menjadi bagian tim pembuka jalan, terus memberi semangat kepada jamaah lain.
“Maju pak… geser pak… masuk pak…” teriaknya sambil bertahan di dekat dinding tempat askar berjaga.
Peluh membasahi pakaian ihramnya, namun ia tetap bertahan membantu jamaah lain.
“Lelah menjadi lillah,” ucap salah seorang jamaah memberi semangat.
Berbeda lagi dengan Agus. Awalnya ia merasa cukup puas hanya dengan mengusap Hajar Aswad. Namun setelah mendengar cerita teman-temannya yang berhasil menciumnya, tekadnya berubah.
Tiga kali terpental tidak membuatnya menyerah.
Setelah mengambil wudhu kembali, Agus akhirnya dibimbing langsung oleh Ikhsan mendekati Hajar Aswad.
Dan malam itu, impiannya menjadi kenyataan.
“Jangan lama-lama pak, setelah mencium segera mundur,” pinta Ikhsan.
Tangis syukur pecah. Air mata tidak mampu dibendung.
Agus menggambarkan momen itu dengan penuh haru.
“Saat mencium Hajar Aswad rasanya seperti berada di ruang yang sangat luas, sejuk, nyaman, dan tak bertepi.”
Pengalaman dan jam terbang Khairul Ikhsan terbukti menjadi kunci keberhasilan malam itu. Dengan penuh energi dan tanggung jawab, ia berhasil membimbing puluhan karu dan karom Kloter JKG 7 untuk meraih impian mereka.
“Tugas saya menghantarkan bapak-bapak mencium Hajar Aswad sudah selesai. Berikutnya tugas bapak-bapak membimbing regunya masing-masing,” ujar Ikhsan.
Ucapan terima kasih pun mengalir dari para jamaah.
“Perjuanganmu membuahkan hasil. Janjimu lunas dan akan dikenang sepanjang hayat,” kata Agus.
Sukoco, Karom 3, juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tim.
“Kekuatan tim yang solid menjadi kunci keberhasilan kita semua. Setiap orang malam ini punya cerita berbeda yang akan menjadi sejarah hidup masing-masing.”
Hajar Aswad merupakan batu hitam suci yang terletak di sudut tenggara Ka’bah dan menjadi titik awal serta akhir tawaf. Batu ini diyakini berasal dari surga dan diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS.
Posisinya berada sekitar 1,5 meter dari lantai Ka’bah dan dibingkai perak untuk melindunginya.
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad hukumnya sunnah. Jika kondisi sangat padat, jamaah cukup memberi isyarat tangan dari kejauhan.
Bagi umat Islam, Hajar Aswad memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Batu suci ini diyakini akan menjadi saksi bagi orang-orang yang menyentuh atau menciumnya dengan penuh keikhlasan pada hari kiamat kelak.
Dan bagi rombongan KBIHU Safir Madina malam itu, perjuangan mencium Hajar Aswad bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati yang akan dikenang sepanjang hidup.( Red/ Laporan Agustobationo dari Makkah )