Mekkah Al-Mukarramah, Sabtu, 15 Mei 2026 – Banyak kisah dan cerita menarik mewarnai perjalanan ibadah haji di Mekkah Al-Mukarramah tahun 2026. Setiap kejadian, cobaan, dan aktivitas yang dijalani para jamaah diyakini sebagai bagian dari ikhtiar menggapai rida Allah SWT dan mengharap pahala terbaik dalam ibadah suci ini.
Memasuki Jumat kedua di Masjidil Haram, suasana kota suci semakin padat oleh kedatangan jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kepadatan jamaah membuat aktivitas di sekitar Masjidil Haram berlangsung nyaris tanpa henti selama 24 jam.
Bus shalawat yang melayani jamaah Indonesia hanya beroperasi hingga pukul 08.00 pagi waktu setempat. Akibatnya, jamaah yang selesai melaksanakan tawaf atau salat Subuh di Masjidil Haram harus segera kembali ke hotel sebelum layanan transportasi berhenti.

Sementara itu, jamaah yang ingin menunaikan salat Jumat di Masjidil Haram bahkan sudah bersiap sejak pagi untuk mendapatkan posisi terbaik di area masjid.
Di tengah padatnya aktivitas tersebut, terselip kisah sederhana namun penuh makna dari Sugianto, jamaah asal Bumiayu, Sukadana, Lampung. Setelah melaksanakan tawaf sunah, ia memilih tidak langsung kembali ke hotel dan menikmati sarapan lebih dahulu di kawasan Zamzam Tower. Akibatnya, ia tidak lagi kebagian bus shalawat.
Namun kondisi itu tidak mengurangi semangatnya sedikit pun.
“Alhamdulillah tawaf sunah sudah selesai. Walaupun belum bisa mencium Hajar Aswad, saya sudah bisa mencium sisi-sisi Ka’bah dan salat di pinggir Ka’bah. Meski pulang ke hotel harus jalan kaki, saya puas. Sekalian latihan jalan untuk Armuzna,” ujarnya penuh semangat.
Perjalanan kaki sekitar dua kilometer menuju hotel di sektor 7 justru terasa ringan baginya karena hati dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan.
Di balik kekhusyukan ibadah, tantangan kesehatan juga menjadi perhatian serius. Batuk dan pilek atau yang akrab disebut “bapil” kini menjadi keluhan umum di kalangan jamaah.
Dokter kloter, Andika Arie Prasetya, bahkan berseloroh bahwa di Tanah Suci saat ini “hanya onta dan tiang listrik yang tidak bapil.”
Menurut dr. Andika, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan banyak jamaah terserang batuk dan pilek.
Pertama, kepadatan jamaah yang semakin tinggi membuat penularan virus melalui udara menjadi lebih cepat. Kedua, aktivitas fisik yang sangat padat menyebabkan kelelahan ekstrem, terutama bagi jamaah yang sehari-hari tidak terbiasa berjalan jauh.
Selain itu, perubahan cuaca yang ekstrem juga memengaruhi kondisi tubuh jamaah. Suhu panas di luar ruangan yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius berbanding terbalik dengan suhu dingin pendingin udara di hotel. Kondisi udara yang kering membuat saluran pernapasan mudah iritasi bahkan memicu mimisan.
Paparan debu dan pasir gurun turut memperparah kondisi tenggorokan jamaah.
Untuk itu, para jamaah diimbau menggunakan alat pelindung diri seperti masker, payung atau topi, serta kacamata hitam saat beraktivitas di luar ruangan. Jamaah juga diminta memperbanyak minum air dan mengonsumsi oralit setidaknya sekali sehari guna menjaga cairan tubuh.
“Jangan menunggu haus baru minum. Kalau mulai merasa tidak enak badan segera hubungi petugas kesehatan,” pesan dr. Andika.
Meski banyak jamaah mulai terserang flu ringan akibat cuaca, kondisi jamaah Kloter JKG 7 secara umum masih terkendali.
“Alhamdulillah semua masih sehat. Kalau ada flu ringan karena perubahan cuaca itu biasa. Yang penting segera berobat dan menjaga kondisi supaya saat puncak haji tetap sehat,” katanya.
Ketua Kloter JKG 7, Winardi, mengingatkan jamaah agar menjaga stamina dan tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunah secara berlebihan.
Menurutnya, inti dari seluruh rangkaian ibadah tetap berada pada prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.
“Ibadah sunah boleh sebanyak-banyaknya, tetapi kondisi tubuh harus dijaga. Yang paling penting adalah kesiapan menghadapi puncak haji,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa skema murur kini tidak hanya diperuntukkan bagi lansia, jamaah risiko tinggi, dan pengguna kursi roda, tetapi jamaah sehat pun diperbolehkan mengikuti mekanisme tersebut sesuai kebijakan terbaru panitia.
Selain persoalan kesehatan, keluhan koper rusak juga mulai bermunculan di kalangan jamaah. Menanggapi hal itu, Winardi mengatakan penggantian kemungkinan hanya diberikan bagi koper yang mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan kembali.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, suasana penuh keakraban justru terlihat di rooftop lantai 15 Hotel Moro, tempat para jamaah mencuci pakaian setiap hari.
Pria dan wanita tampak bergantian menggunakan mesin cuci maupun mencuci secara manual. Sebagian sabar menunggu antrean mesin kosong, sebagian lain sibuk mencari tali jemuran dan jepitan pakaian.
Tak jarang pakaian tertukar atau antrean sedikit semrawut. Namun semua dijalani dengan canda dan kesabaran.
Rooftop hotel pun berubah menjadi ruang sosial sederhana tempat jamaah berkumpul, ngopi, berbincang, merokok, hingga menikmati makanan ringan sambil menunggu pakaian kering.
“Di sini justru terasa kebersamaannya,” ujar seorang jamaah asal Sulawesi sambil tersenyum.
Di Tanah Suci, kesabaran memang menjadi ujian sehari-hari. Mulai dari antre bus, berjalan kaki, menghadapi cuaca panas, hingga menunggu giliran mencuci pakaian. Namun bagi para jamaah, setiap kesulitan diyakini sebagai bagian dari proses ibadah dan ladang pahala yang akan dikenang sepanjang hidup.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











