DEMOKRASINEWS, Makkah, 7 Mei 2026 — Udara pagi yang sejuk dengan suhu sekitar 23 derajat Celsius menyambut aktivitas jamaah haji Indonesia di Kota Suci, Rabu (7/5). Sejak dini hari, deretan bus shalawat nomor 18 yang beroperasi selama 24 jam silih berganti mengantar calon jamaah haji menuju Terminal Ajyad, salah satu akses utama ke Masjidil Haram.
Dari terminal terakhir kawasan Misfalah itu, langkah ribuan jamaah mulai menyebar menuju tujuan masing-masing. Denting sandal jepit para jamaah menjadi irama khas pagi di pelataran kota suci. Ada yang bergegas menuju Ka’bah untuk menunaikan umrah, ada pula yang memilih menyusuri jejak sejarah Islam sambil menambah wawasan religi.
Bagi jamaah yang hendak melaksanakan umrah diwajibkan mengenakan pakaian ihram. Sementara jamaah yang hanya beribadah di Masjidil Haram tampak mengenakan busana muslim sederhana seperti baju koko, gamis, maupun sarung khas Indonesia.

Di antara rombongan jamaah pagi itu, terdapat Abil, jamaah asal Bandar Lampung yang telah beberapa kali menjalani ibadah umrah. Pengalamannya membuat ia kerap menjadi penunjuk jalan sekaligus pemandu kecil bagi jamaah lain yang ingin mengenal tempat-tempat bersejarah di sekitar Masjidil Haram.
Perjalanan dimulai dengan melihat kawasan yang diyakini sebagai lokasi kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tempat tersebut kini difungsikan sebagai perpustakaan umum. Bangunannya sederhana, namun selalu ramai dikunjungi jamaah dari berbagai negara.
Tak jauh dari lokasi itu, Abil juga menunjukkan area yang dahulu dikenal sebagai Pasar Seng, salah satu pusat perdagangan lama di Makkah yang kini tinggal menjadi bagian dari sejarah kota.
Rombongan kemudian melintasi lorong pembatas antara kompleks Masjidil Haram dan area Istana Raja Salman. Dari kejauhan, Abil menunjukkan salah satu pintu khusus yang disebut sebagai akses imam Masjidil Haram menuju area shalat.
Perjalanan berlanjut menuju Masjid Jin, salah satu masjid bersejarah yang menjadi destinasi favorit jamaah Indonesia. Masjid kecil tersebut diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW membacakan Al-Qur’an kepada sekelompok jin hingga mereka menyatakan keimanan kepada Islam.
Karena peristiwa baiat atau janji setia itu, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Baiah.
Meski pintu masjid saat itu tertutup, antusias jamaah tidak surut. Beberapa jamaah tampak mengabadikan momen di sekitar lokasi sambil mendengarkan kisah sejarah yang disampaikan sesama jamaah.
“Saya sudah lama ingin melihat langsung Masjid Jin karena sering mendengar kisahnya sejak kecil,” ujar salah seorang jamaah perempuan dalam rombongan tersebut.
Dalam perjalanan kembali menuju area WC 3 Masjidil Haram, rombongan juga melewati kawasan pemakaman sederhana yang diyakini sebagai lokasi makam Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW.
Usai melaksanakan shalat Dhuha di lantai satu Masjidil Haram setelah akses rooftop belum dibuka hingga waktu Ashar, perjalanan jamaah berlanjut ke salah satu tempat yang belakangan viral di media sosial Indonesia, yakni kedai “Tumbler 1/2 M”.

Lokasinya berada di sekitar WC 6 Masjidil Haram dan menjadi magnet baru bagi jamaah Indonesia. Tumbler khas dengan desain unik itu dijual seharga 24 riyal Saudi, sementara aneka kopi dibanderol mulai 16 riyal.
Bagi sebagian jamaah, menikmati kopi sambil beristirahat setelah berjalan kaki cukup jauh menghadirkan sensasi tersendiri di tengah padatnya aktivitas ibadah.
“Kopinya enak dan tempat ini jadi ramai karena banyak direkomendasikan jamaah di media sosial,” kata salah seorang jamaah asal Lampung.
Di kawasan bawah Menara Zamzam, suasana semakin semarak dengan deretan toko yang menjual berbagai kebutuhan jamaah, mulai dari makanan, pakaian, parfum Arab, hingga perhiasan.
Perjalanan pagi itu bukan sekadar wisata religi, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual yang memperkaya pemahaman jamaah tentang sejarah Islam di Kota Suci.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah)











