DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Lampung Timur menuai kritik dari berbagai kalangan dan memicu perdebatan publik. Sorotan utama tertuju pada penempatan simbol siger dalam desain yang dinilai kurang tepat secara filosofis.
Ketua Mighul Lampung Bersatu Lampung Timur, Hj. Huzaimah Azwar Hadi, menyampaikan keberatannya terhadap penggunaan simbol adat tersebut. Ia menilai, penempatan siger dalam logo berpotensi mengaburkan makna sakralnya sebagai mahkota perempuan Lampung.

“Itu siger mahkota kami, perempuan Lampung. Kenapa dipasang seperti itu? Angka 27 sudah bagus, tapi jangan ada cula badak dan gajah itu,” ujarnya melalui pesan singkat, Jumat (3/4/2026).
Menurut Huzaimah, secara visual angka “27” dalam logo sudah cukup representatif. Namun, penempatan siger seharusnya berada di posisi yang lebih tepat dan terhormat.
“Seharusnya siger ditempatkan di atas agar sesuai dengan nilai filosofinya,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa simbol adat tidak boleh digunakan secara sembarangan. Penempatan dan penggambaran harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan makna yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur menyatakan bahwa logo yang beredar saat ini masih dalam tahap uji publik. Kritik dan masukan dari masyarakat akan dijadikan bahan evaluasi sebelum ditetapkan sebagai logo resmi.
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Lampung Timur, Arista, mengatakan pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan.
“Sudah dalam proses perbaikan. Logo tersebut dibuat oleh Dinas Komdigi Lampung Timur,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Komdigi Kabupaten Lampung Timur, Mansursyah, menegaskan bahwa pihaknya hanya menjalankan permintaan pembuatan desain.
“Kami hanya melaksanakan permintaan pembuatan logo. Penanggung jawabnya dari bagian Tata Pemerintahan,” katanya.
Sejumlah pihak menilai, proses pembuatan logo HUT daerah semestinya melibatkan tokoh adat, budayawan, serta masyarakat. Keterlibatan berbagai unsur dinilai penting agar desain yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mencerminkan nilai budaya dan jati diri daerah.

Makna Filosofis Logo
Logo HUT ke-27 Kabupaten Lampung Timur tidak sekadar menjadi simbol perayaan, tetapi juga merepresentasikan perjalanan, potensi, dan arah pembangunan daerah.
Angka “27” mengandung filosofi usia sekaligus menggambarkan kekuatan sektor agraris sebagai tulang punggung perekonomian. Representasi padi, jagung, dan singkong melambangkan kemandirian pangan serta potensi unggulan masyarakat.
Kehadiran satwa seperti gajah dan badak mencerminkan kekayaan keanekaragaman hayati serta peran Lampung Timur dalam menjaga kawasan konservasi yang menjadi aset ekologis bernilai tinggi.
Unsur aliran air menggambarkan sumber kehidupan dan keberlanjutan, sekaligus menegaskan potensi kelautan dan perikanan sebagai penopang ekonomi masyarakat pesisir.
Di bagian atas, mahkota yang terinspirasi dari siger khas Lampung melambangkan kehormatan, kearifan lokal, dan identitas budaya. Elemen ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tetap berpijak pada nilai tradisi.
Secara keseluruhan, logo ini mengusung semangat “Bumei Tuwah Bepadan untuk Nusantara”, yang mencerminkan komitmen Lampung Timur untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi Indonesia.
Momentum HUT ke-27 diharapkan menjadi penguat semangat kebersamaan, gotong royong, serta optimisme masyarakat dalam mendorong daerah menuju kemajuan dan kesejahteraan.(Red/Prie)











