DEMOKRASINEWS, Bandar Lampung, 13 Juni 2026 – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung memusnahkan sebanyak 1.320 butir pil ekstasi hasil pengungkapan dua kasus peredaran narkotika yang terjadi di wilayah Bandar Lampung. Pemusnahan barang bukti tersebut dilaksanakan di Kantor BNNP Lampung setelah memperoleh persetujuan resmi dari Kejaksaan Negeri Bandar Lampung sebagai bagian dari proses penegakan hukum dan pemberantasan peredaran gelap narkotika.
Kepala BNNP Lampung menjelaskan, barang bukti yang dimusnahkan memiliki berat bersih mencapai 484,07 gram. Barang haram tersebut merupakan bagian dari total sitaan sebanyak 1.350 butir pil ekstasi yang berhasil diamankan dari dua tersangka berinisial Tri Maya Sari dan Wawan Effendi. Sebanyak 30 butir pil disisihkan untuk keperluan pemeriksaan laboratorium forensik serta pembuktian dalam proses persidangan yang akan datang.
Pengungkapan kasus pertama berawal dari penangkapan Tri Maya Sari di kawasan Kedaton, Bandar Lampung. Dari tangan tersangka, petugas menemukan 100 butir pil ekstasi yang diduga siap diedarkan kepada para pengguna. Sementara itu, dalam pengembangan kasus lainnya, tim BNNP Lampung berhasil mengamankan Wawan Effendi di kediamannya di wilayah Tanjungkarang Barat. Dari lokasi tersebut, petugas menyita 1.250 butir pil ekstasi yang diduga menjadi bagian dari jaringan peredaran narkotika skala lebih besar.
Selain narkotika jenis ekstasi, aparat juga menyita sejumlah barang bukti pendukung berupa telepon genggam, uang tunai, timbangan digital, serta plastik klip yang diduga digunakan untuk aktivitas pengemasan dan distribusi narkoba. Berdasarkan hasil uji laboratorium, seluruh pil yang diamankan terbukti mengandung zat MDMA yang termasuk dalam kategori narkotika golongan I.
BNNP Lampung menduga kedua tersangka memiliki keterkaitan dengan jaringan peredaran narkotika yang lebih luas. Dari hasil pemeriksaan sementara, para tersangka mengaku memperoleh pasokan ekstasi dari seseorang yang saat ini masih dalam pengejaran dan telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Penyidik terus melakukan pengembangan guna mengungkap jaringan pemasok serta jalur distribusi narkotika yang diduga beroperasi lintas wilayah.
Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 114 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka terancam pidana penjara seumur hidup, hukuman penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun, serta kemungkinan hukuman mati sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku apabila terbukti bersalah di pengadilan. Kasus ini menjadi bukti komitmen aparat dalam memerangi peredaran narkotika yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat dan generasi muda.( Red/Ato/Rhd/Rls BNN )











