DEMOKRASINEWS, Palembang Sumsel, 25 Mei 2026 – Grup musik legendaris Slank kembali membuktikan eksistensinya di tengah perubahan zaman dan tren musik yang terus berganti. Minggu malam (24/5/2026), kawasan Jakabaring, Palembang, berubah menjadi lautan manusia dalam gelaran HS Hey Slank “Berani Kita Beda Tour” sesi ketujuh.
Ribuan Slankers dari berbagai daerah memadati area konser sejak sore hari. Mulai dari anak muda, komunitas Vespa, hingga penggemar lintas generasi larut dalam suasana nostalgia bersama lagu-lagu Slank yang telah menemani perjalanan hidup mereka selama puluhan tahun.
Menariknya, konser ini tidak menggunakan sistem tiket digital atau barcode seperti kebanyakan pertunjukan musik modern. Penonton cukup membawa dua bungkus rokok HS Mild atau Slim yang masih tersegel lengkap dengan pita cukai untuk dapat menikmati konser.

Konsep tersebut sukses menghadirkan suasana pesta rakyat yang memadukan musik, komunitas, dan strategi promosi industri hiburan.
Atmosfer konser semakin pecah ketika vokalis Slank, Kaka, naik ke atas panggung. Ribuan penonton langsung kompak menyanyikan lagu demi lagu tanpa henti.
Tak ada sekat yang terasa di antara penonton malam itu. Semua melebur dalam satu identitas: Slankers.
“Gara-gara HS ini Slank bisa datang ke Palembang. Banyak yang mensyukuri, termasuk saya,” ujar Kaka saat konferensi pers sebelum konser berlangsung.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa konser ini bukan hanya sekadar panggung hiburan, tetapi juga bagian dari kolaborasi besar antara musik, komunitas, dan industri kreatif.
Tak hanya menghadirkan Slank, konser ini juga dimeriahkan oleh sejumlah musisi nasional seperti Tony Q Rastafara, Superiots, dan Stand Here Alone. Musisi lokal Palembang seperti Mahalara dan Kopral Jono turut memanaskan suasana.
Sementara itu, dua band hasil audisi lokal, D’Aterix dan Brainfreeze, juga mendapat kesempatan tampil di hadapan ribuan penonton. Langkah ini dinilai menjadi ruang apresiasi bagi band independen daerah untuk tampil di panggung besar.
Sebelum konser dimulai, ratusan komunitas motor dan Vespa melakukan riding melintasi sejumlah titik ikonik Kota Palembang. Suasana malam itu berubah menjadi festival rakyat khas Slankers: padat, riuh, bebas, namun tetap penuh solidaritas.
Direktur Komersial HS, Tessa Arya Pradana, mengatakan Palembang dipilih sebagai lokasi konser karena memiliki kedekatan emosional dengan owner HS, Haji Suryo, yang berasal dari Sumatera.
“Pak Haji Suryo lahir di Lampung dan besar di Bengkulu. Beliau dari Sumatera, wong kito lah,” kata Tessa.
Di balik kemeriahan konser, tersimpan pula strategi bisnis yang cukup besar. Sumatera disebut menyumbang sekitar 25 persen penjualan HS atau setara 135 juta batang rokok.
Tessa mengungkapkan penjualan HS di Palembang mengalami peningkatan signifikan dalam tiga bulan terakhir.
“Untuk perusahaan rokok yang belum dua tahun, itu signifikan. Makanya kami buka pabrik di Lampung,” ujarnya.
Bassis Slank, Ivanka, menilai kolaborasi dengan HS tidak hanya berkaitan dengan sponsor konser, tetapi juga mendukung pemberdayaan komunitas melalui program Slankerspreneur yang menjadi wadah UMKM para Slankers.
“Belum pernah kita tour yang sponsornya memfasilitasi UMKM untuk jualan,” kata Ivanka.
Selain itu, HS juga mengklaim telah mempekerjakan ratusan pekerja disabilitas dan ribuan tenaga kerja tanpa pengalaman sebelumnya.
Terlepas dari berbagai dinamika bisnis di balik konser tersebut, satu hal yang sulit dibantah adalah kekuatan magnet Slank yang masih mampu menarik ribuan penonton setelah puluhan tahun berkarya.
Palembang malam itu bukan sekadar venue konser. Kota tersebut berubah menjadi ruang temu lintas generasi, tempat para Slankers kembali merasa muda, bebas, dan melupakan sejenak kerasnya kehidupan.
Ketika konser berakhir, yang tersisa bukan hanya suara serak penonton dan sampah bungkus rokok di sekitar area acara, melainkan juga nostalgia yang kembali hidup bersama lagu-lagu Slank.
Ribuan penonton pun kompak sing along dari awal hingga akhir konser. Jakabaring malam itu bukan hanya ramai oleh musik, tetapi juga penuh kenangan yang membekas bagi para Slankers.
Dan seperti pertanyaan klasik yang terus muncul selama bertahun-tahun: apakah Slank yang mengikuti zaman, atau justru zaman yang diam-diam masih mengikuti Slank?( Red/Prie )











