DEMOKRASINEWS, Mekah Al-Mukarramah, Sabtu, 23 Mei 2026 — Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, jamaah haji Indonesia mulai menyesuaikan diri dengan sejumlah perubahan regulasi layanan transportasi dan konsumsi yang diterapkan selama fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Salah satu perubahan yang paling dirasakan jamaah adalah penghentian operasional bus sholawat sejak 23 Mei 2026 atau 6 Dzulhijjah 1447 H. Bus yang selama ini melayani transportasi jamaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya, untuk sementara dihentikan guna persiapan operasional Armuzna.
“Yang jelas mulai berhenti beroperasi sementara tanggal 22 Mei 2026 pukul 18.00 WAS dan kembali beroperasi tanggal 31 Mei 2026 pukul 01.00 WAS,” ujar Winardi, Ketua Kloter JKG 7.

Meski layanan transportasi dihentikan sementara, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat jamaah untuk tetap beribadah di Masjidil Haram. Dengan jarak tempuh sekitar 1.500 meter dari hotel menuju masjid, para jamaah tetap berjalan kaki sejak dini hari hingga sore hari demi menunaikan ibadah.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit itu justru dianggap sebagian jamaah sebagai latihan fisik menjelang puncak ibadah haji di Armuzna yang membutuhkan stamina kuat.
Dian Dwi Retno Sari, jamaah asal Lampung Timur yang berangkat bersama suami dan keluarganya, mengaku tetap antusias menjalani ibadah meski harus berjalan kaki setiap hari.
“Saya selalu salat Subuh di Masjidil Haram. Perjalanan dari hotel ke Masjidil Haram ini hitung-hitung latihan Armuzna. Setidaknya ada dua keuntungan, sehat karena berolahraga dan mendapatkan ridho Illahi,” tuturnya.
Di tengah cuaca panas Mekah yang cukup menyengat, semangat kebersamaan juga terlihat di antara jamaah. Mereka saling membantu, mengingatkan waktu ibadah, hingga berbagi informasi mengenai kondisi layanan selama masa transisi menuju Armuzna.
Perubahan regulasi tidak hanya berdampak pada layanan transportasi, tetapi juga pola distribusi konsumsi jamaah. Jika sebelumnya jamaah menerima makanan katering tiga kali sehari lengkap dengan buah dan susu, mulai 24 Mei 2026 atau 7 Dzulhijjah 1447 H konsumsi dialihkan ke makanan siap saji atau Ready To Eat (RTE).
Setiap jamaah menerima satu kardus paket RTE yang berisi dua bubur untuk sarapan, empat paket nasi, empat paket sayuran/lauk, serta dua wadah pemanas makanan.
Paket tersebut diperuntukkan bagi konsumsi:
- Tanggal 7 Dzulhijjah (pagi, siang, malam)
- Tanggal 8 Dzulhijjah (sarapan sebelum keberangkatan ke Arafah)
Sementara selama berada di Arafah dan Mina, jamaah tetap mendapatkan konsumsi katering seperti biasa. Adapun di Muzdalifah jamaah akan memperoleh satu paket makanan ringan (snack).
Petugas konsumsi, Evy, memberikan panduan langsung kepada jamaah mengenai cara penggunaan makanan siap saji tersebut.
“Masukkan pack nasi atau lauk ke dalam box container, lalu tuangkan air panas sekitar lima menit. Setelah matang, air dibuang dan makanan siap dikonsumsi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar wadah pemanas tidak dibuang karena akan digunakan kembali untuk tahap berikutnya.
Saat proses distribusi berlangsung, Ketua Kloter diminta memastikan seluruh jamaah menerima hak konsumsi sesuai prosedur operasional standar (SOP).
Bagi sebagian jamaah lanjut usia, sistem konsumsi baru ini sempat menimbulkan kebingungan. Legino (72), salah seorang jamaah lansia, mengaku perlu bantuan rekan satu kamar untuk memahami cara menyiapkan makanan siap saji tersebut.
Namun situasi itu justru memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong antarjamaah Indonesia. Jamaah yang lebih muda sigap membantu lansia menyiapkan makanan maupun memberikan penjelasan terkait perubahan layanan.
Perubahan pola layanan menjelang Armuzna memang menuntut kemampuan adaptasi para jamaah. Namun di balik itu, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, kemandirian, disiplin, serta solidaritas antarsesama umat Muslim dalam menjalani perjalanan spiritual di Tanah Suci.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











