DEMOKRASINEWS, Makkah, 7 Mei 22026 — Pelaksanaan ibadah haji yakni untuk jamaah asal Lampung diawali dengan ibadah umrah diawali niat ihram, kemudian dilanjutkan tawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram. Jamaah memulai putaran dari area yang ditandai lampu hijau di sekitar Hijir Ismail dengan arah berlawanan jarum jam.
Usai tawaf, jamaah melaksanakan salat sunah dua rakaat, kemudian meminum air zam-zam sambil menghadap Ka’bah dengan penuh rasa syukur dan harapan.
Rangkaian ibadah berikutnya adalah sa’i, yakni berjalan kaki dari Bukit Safa menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali putaran. Pada area yang ditandai lampu hijau, jamaah laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil sebagaimana sunnah Rasulullah SAW. Prosesi umrah kemudian ditutup dengan tahalul di Bukit Marwah.

Di tengah ribuan jamaah yang memadati area Masjidil Haram, semangat luar biasa ditunjukkan Subandi (84), seorang jamaah asal Magetan Jawa Timur. Meski ia berjalan tertatih karena faktor usia, pensiunan guru tersebut tetap mampu menyelesaikan tawaf dan sa’i secara mandiri.
“Rasanya senang bisa melaksanakan prosesi umrah dengan baik walau tertatih. Kalau capek ya capek, tapi bangga dan puas bisa melakukan sendiri,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Dalam kesehariannya di rumah, Subandi dikenal sebagai pribadi aktif yang tidak pernah diam. Ia senang membersihkan halaman rumah dan jalan sekitar tempat tinggalnya, kebiasaan yang membuat kondisi fisiknya tetap terjaga di usia senja.
Selanjutnya pembimbing haji kloter JKG 7, Hizbullah Safari, mengaku bersyukur karena jamaah dapat melaksanakan ibadah umrah dengan sempurna sesuai tuntunan.
Menurutnya, pelaksanaan umrah dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diperuntukkan bagi jamaah yang sehat dan dilaksanakan pada malam hari, sedangkan jamaah resiko tinggi (resti) dan lanjut usia menjalankan umrah pada keesokan harinya agar kondisi fisik mereka lebih terjaga.
Dengan penuh kesabaran, Safari membimbing jamaah melalui arahan ibadah dan lantunan doa di setiap tahapan perjalanan.
“Kita harus sabar untuk mendampingi jamaah. Dengan berbagai karakter, kondisi kesehatan, dan usia, semua harus mendapat pelayanan yang sama,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kloter JKG 7, Winardi, tampak setia mendampingi jamaah lansia dan resiko tinggi hingga seluruh rangkaian umrah selesai dilaksanakan.
Menurutnya, semangat para jamaah menjadi energi tersendiri bagi para petugas untuk terus memberikan pelayanan terbaik.
“Salut dengan semangat dan keinginan tinggi para jamaah. Itu membuat kami para panitia ikut terpacu untuk terus melayani,” katanya.
Keesokan harinya, jamaah dijadwalkan mengikuti wisata sejarah religi di sekitar kawasan Masjidil Haram guna menambah wawasan tentang jejak perjuangan Islam di Tanah Suci.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











