DEMOKRASINEWS, Makkah Al-Mukarramah, Rabu 20 Mei 2026 — Jamaah Kloter JKG 7 asal Bandar Lampung mengeluhkan antrean lift, fasilitas kamar rusak, hingga keterlambatan distribusi makanan selama berada di Tanah Suci.
Wamen Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau langsung kondisi jamaah haji Indonesia di Hotel 709, Makkah, Selasa malam waktu setempat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendengar berbagai keluhan jamaah, khususnya jamaah asal Bandar Lampung yang tergabung dalam Kloter JKG 7.
Kedatangan Wamen berlangsung sederhana tanpa pengawalan ketat. Setibanya di hotel, ia langsung berdialog dengan jamaah dan menanyakan kondisi pelayanan selama mereka tinggal di hotel tersebut.

“Hotel ini memang banyak dikeluhkan jamaah,” ujar Dahnil saat meninjau lokasi.
Keluhan utama jamaah berkaitan dengan fasilitas lift yang dinilai tidak sebanding dengan jumlah penghuni hotel. Sejumlah jamaah mengaku harus mengantre sangat lama untuk menggunakan lift, bahkan antrean dapat mencapai hampir satu jam pada waktu-waktu tertentu.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian jamaah terlambat menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan salat berjamaah.
Selain persoalan lift, jamaah juga mengeluhkan sejumlah fasilitas kamar seperti pintu yang kurang berfungsi, kran air bocor, hingga gantungan pakaian yang rusak. Menanggapi hal tersebut, Wamen meminta jamaah tetap bersabar dan memastikan seluruh keluhan telah disampaikan kepada pihak manajemen hotel untuk segera ditindaklanjuti.
Petugas Kementerian Haji dan Umrah menyebut salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan untuk musim haji mendatang adalah pengurangan kapasitas penghuni kamar agar kenyamanan jamaah dapat lebih terjaga.
“Mungkin tahun depan kapasitas kamar akan dikurangi. Saat ini satu kamar diisi empat sampai enam orang, mudah-mudahan ke depan bisa menjadi dua orang,” ujar salah satu petugas.
Namun pernyataan tersebut langsung disambut candaan jamaah.
“Sekarang saja kamar isi tiga dan dua masih macet liftnya,” ujar seorang jamaah yang disambut tawa jamaah lainnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, semangat pelayanan petugas kloter tetap terlihat. Ketua Regu 12 Kloter JKG 7, Darmawan, mengaku harus membawa makanan jamaah melalui tangga darurat hingga belasan lantai demi memastikan jamaah lansia tetap memperoleh konsumsi tepat waktu.
“Bagaimana tidak kami lakukan, karena jadwal makan sudah terlambat dan sebagian regu kami sudah lansia. Apa pun kami lakukan demi memberikan pelayanan terbaik. Semoga perjuangan ini bermanfaat dan lelah menjadi lillah,” ungkapnya.
Sementara itu, jamaah asal Bandar Lampung yang menempati Hotel 802 juga menghadapi persoalan keterlambatan distribusi makanan yang dinilai mengganggu jadwal ibadah mereka.
Saat dikonfirmasi, petugas konsumsi menyampaikan permohonan maaf dan menyebut keterlambatan tersebut terjadi di luar kendali mereka.
Kloter JKG 7 diketahui terbagi di dua hotel, yakni Hotel 709 dan Hotel 802 yang berada saling berseberangan. Kondisi ini membuat sejumlah pasangan suami istri harus tinggal terpisah selama di Makkah.
Salah seorang jamaah, Djunaidi, mengaku tetap bersyukur meski harus berbeda hotel dengan pasangannya.
“Alhamdulillah, walaupun terpisah kami masih bisa berkoordinasi dan beribadah bersama di Masjidil Haram,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan H. Ihsan yang berharap penempatan pasangan suami istri ke depan dapat kembali berada dalam satu hotel sebagaimana penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya.
Kehadiran Wamen Haji dan Umrah diharapkan menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak terkait agar pelayanan jamaah haji Indonesia semakin baik, khususnya dalam aspek kenyamanan akomodasi dan pelayanan dasar jamaah di Tanah Suci.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











