DEMOKRASINEWS, Madinah, 5 April 2026 — Suasana haru dan penuh kekhusyukan menyelimuti para jamaah haji Indonesia saat bersiap meninggalkan Kota Madinah menuju Makkah pada musim haji 2026. Di balik rangkaian teknis yang tertata rapi, tersimpan kisah ketundukan, kesabaran, dan kesiapan spiritual para tamu Allah dalam menapaki fase penting ibadah mereka.
Sejak malam hari, aktivitas jamaah mulai terlihat di lorong-lorong hotel. Koper-koper besar dan kecil telah disusun rapi di depan kamar masing-masing, menandai kesiapan menuju perjalanan panjang. Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) dengan sigap mengoordinasikan pengangkutan barang ke bagasi bus, memastikan seluruh proses berjalan tertib tanpa hambatan.
Di tengah kesibukan tersebut, para jamaah tidak hanya disibukkan oleh urusan logistik. Mereka juga mempersiapkan diri secara spiritual. Mulai dari mandi sunnah ihram, merapikan diri, hingga mengenakan pakaian ihram bagi laki-laki dan busana muslimah bagi perempuan. Wewangian pun digunakan secukupnya sebelum niat ihram, sebagai bagian dari sunnah yang dianjurkan.

Perjalanan menuju miqat di Bir Ali menjadi momen penting yang dinanti. Di tempat inilah jamaah mengambil niat ihram sebagai tanda dimulainya rangkaian ibadah umrah. Bagi sebagian jamaah lansia, kemudahan diberikan dengan opsi tetap di bus, mengingat kondisi fisik yang perlu dijaga. Meski singkat, momen di miqat sarat makna: dari sinilah larangan-larangan ihram mulai berlaku, menguji kesabaran dan kedisiplinan setiap individu.
Selama perjalanan sekitar lima hingga enam jam menuju Makkah, suasana bus dipenuhi lantunan talbiyah yang menggema. “Labbaik Allahumma labbaik…” menjadi pengingat akan panggilan suci yang tengah mereka penuhi. Zikir dan doa mengalir, menggantikan percakapan duniawi, menciptakan suasana batin yang tenang dan penuh harap.

Setibanya di Makkah, jamaah diarahkan menuju hotel untuk beristirahat sejenak sebelum melaksanakan tawaf di Masjidil Haram. Kelelahan perjalanan tidak menyurutkan semangat mereka. Justru, kerinduan untuk melihat Ka’bah untuk pertama kalinya menjadi energi tersendiri yang menguatkan langkah.
Pelaksanaan tawaf, sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga tahallul menjadi puncak dari rangkaian ibadah umrah awal ini. Dalam setiap putaran tawaf dan langkah sa’i, jamaah diingatkan untuk tidak terburu-buru, melainkan menghadirkan hati yang khusyuk, menyadari bahwa mereka adalah tamu Allah yang dimuliakan.
Petugas haji pun terus mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan rombongan, mengutamakan keselamatan, serta menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Di tengah padatnya Masjidil Haram, solidaritas antarjamaah menjadi kunci utama.
Perjalanan dari Madinah ke Makkah bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan transformasi spiritual. Setiap langkah, setiap doa, dan setiap pengorbanan menjadi bagian dari perjalanan menuju pribadi yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Sang Pencipta.
Di Tanah Suci, semua perbedaan melebur. Yang tersisa hanyalah ketundukan, harapan, dan keyakinan bahwa setiap panggilan yang dipenuhi dengan keikhlasan akan berbuah keberkahan.
Musim haji 2026 kembali mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang perjalanan hati yang mendalam, tentang bagaimana manusia belajar menjadi lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli terhadap sesama.( Redaksi Supriyono/Laporan Agustobationo dari Madinah )











