DEMOKRASINEWS,Nagekeo, NTT – Upaya penanganan darurat pascabanjir bandang di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus dilakukan hingga Kamis (11/9). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD setempat dan instansi terkait fokus pada pencarian korban hilang, pendataan dampak, serta perbaikan darurat infrastruktur.
Hingga pukul 11.00 WIB, tercatat lima orang meninggal dunia, tiga hilang, tiga luka-luka, dan 30 warga mengungsi sementara. Korban hilang masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Banjir bandang yang dipicu hujan lebat pada 7–8 September 2025 ini menerjang 14 desa di tiga kecamatan, yaitu Mauponggo, Nangaroro, dan Boawae. Dampak kerusakan meliputi satu rumah hanyut, satu rusak berat, dua kantor, dua jembatan, serta tiga ruas jalan utama.

Akses jalan yang sebelumnya terputus di Kecamatan Mauponggo kini sudah tertangani, sementara tiga titik longsoran lain masih dalam proses pembersihan material. Pemerintah Kabupaten Nagekeo telah menetapkan status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem melalui SK Nomor 330/KEP/HK/2025, berlaku 9–30 September 2025.
Dukungan logistik terus berdatangan. BPBD Provinsi NTT mengirim bantuan berupa selimut, matras, peralatan masak, hygiene kit, hingga tenda keluarga. BNPB juga menyalurkan sembako, makanan siap saji, perlengkapan bayi, tenda pengungsi, hingga peralatan darurat seperti genset dan gergaji mesin.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB turut bertolak ke lokasi untuk memberikan pendampingan. BNPB memastikan dukungan logistik dan dana siap pakai akan terus ditambah sesuai kebutuhan lapangan.(Rls Hms BPNPB )











