DEMOKRASINEWS, Jakarta – Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan menjadikan sektor industri pertahanan sebagai salah satu pilar utama. Dalam audiensi yang digelar antara Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan) dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Jenderal TNI (Purn) Prof. H. Dudung Abdurahman, berbagai langkah strategis disepakati guna memperkuat industri pertahanan Indonesia. Audiensi yang berlangsung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini menjadi tonggak penting bagi komitmen pemerintah dan pelaku industri pertahanan.
Ketua Forkominhan, Marsekal Madya TNI (Purn) Eris Herryanto, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya melibatkan seluruh stakeholder, termasuk sumber daya manusia (SDM) lokal yang memiliki inovasi dan ide-ide orisinal. Ia menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi tulang punggung bagi perkembangan industri pertahanan modern Indonesia agar negara dapat bersaing dengan produsen alat utama sistem persenjataan (Alutsista) global.
“Kami akan melibatkan seluruh stakeholder, termasuk SDM lokal yang memiliki inovasi dan ide-ide orisinal. Generasi muda harus menjadi tulang punggung industri pertahanan modern Indonesia agar kita mampu bersaing dengan produsen Alutsista global,” ujar Eris.

Audiensi ini menghasilkan beberapa langkah strategis untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia, antara lain:
- Penyusunan Roadmap Industri Pertahanan Indonesia melalui diskusi kelompok terarah (FGD) yang akan dilakukan secara rutin.
- Hilirisasi Industri Pertahanan dengan pendekatan end-to-end untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga.
- Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor untuk mendorong inovasi teknologi dan menciptakan produk unggulan karya anak bangsa.
Industri pertahanan Indonesia dipandang memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai bargaining chip dalam diplomasi internasional. Dengan kemandirian dalam teknologi pertahanan, Indonesia dapat memperoleh keunggulan strategis dalam konteks geopolitik global. Produk pertahanan yang kompetitif akan membuka peluang untuk diplomasi formal dengan negara-negara lain, meningkatkan posisi Indonesia di kancah internasional.
“Industri pertahanan Indonesia tidak hanya akan memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga dapat berkontribusi pada pasar global,” tegas Jenderal Dudung Abdurahman, yang mendukung penuh pengembangan industri pertahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
Marsekal Madya Eris Herryanto juga menyoroti keberhasilan negara-negara seperti Turki, Korea Selatan, India, dan China dalam membangun ekosistem industri pertahanan mandiri yang berkontribusi signifikan terhadap PDB mereka. Negara-negara tersebut telah berhasil mengembangkan industri pertahanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional. “Model pembangunan industri pertahanan negara-negara ini dapat menjadi referensi bagi Indonesia,” ujar Eris.
Marsekal Madya Eris Herryanto menutup pernyataannya dengan penuh optimisme. “Kami percaya, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, pencapaian pertumbuhan ekonomi bukan lagi sekadar angan. Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri pertahanan global yang membawa kebanggaan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat,” tambahnya.
Audiensi ini menunjukkan komitmen bersama antara Forkominhan dan pemerintah untuk membangun industri pertahanan yang mandiri, berdaya saing tinggi, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Dengan langkah-langkah strategis yang telah disepakati, Indonesia siap melangkah maju untuk menjadikan industri pertahanan sebagai sektor unggulan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga mampu bersaing di pasar global. (Red/Rls Cicero Communication)











