DEMOKRASINEWS, Korea Selatan – International Women’s Peace Group (IWPG) peringati Hari Perdamaian Wanita Internasional ke-2 tahun dengan cara menggelar dialog atau berkomunikasi secara online dengan tema “3,8 Miliar Wanita Bersatu Untuk Penghentian Perang dan Mewujudkan Perdamaian, Senin (26/4/2021).
Acara yang terpusat di Korea Selatan itu, diikuti sekitar 1.000 anggota dari 45 negara hadir membahas situasi dan kondisi di Myanmar serta mendesak wanita di seluruh dunia untuk fokus dan berpartisipasi dalam pergerakan perdamaian.

Hari Perdamaian Wanita Internasional yang lahir pada tanggal 26 April 2019 itu juga memiliki visi penghentian perang dan merealisasikan perdamaian guna melindungi kehidupan dari perang dan mewariskan perdamaian kepada generasi dengan hati seorang ibu, serta secara resmi telah di proklamasikan oleh IPWG, sebuah LSM dalam status konsultatif dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (UN ECOSOC).
Sementara acara yang digelar Senin sore (waktu Korea Selatan) itu, juga terdapat desakan mendukung Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) sebagai jawaban untuk mencapai perdamaian kepada masing-masing kepala negara, sekaligus mendorong partisipasi perempuan di seluruh dunia untuk ikut serta dalam kegiatan perdamaian agar krisis di Myanmar selesai dengan damai.

Selain itu, peringatan secara online itu juga termasuk video ucapan selamat dari Ketua HWPL Man Hee Lee, Hakim Louis Otis Wakil Hakim European Organisation for the Exploitation of Meteorological Satellites (EUMETSAT), dan pembacaan surat tulisan tangan untuk perdamaian oleh Pendeta Dorothea Gopie selaku Ketua Kerohanian Provinsi Western Cape, Republik Afrika Selatan serta promosi DPCW.
Dalam pidatonya, Pimpinan IPWG Hyun Sook Yoon mengatakan, dua tahun lalu hari ini, ribuan wanita dari seluruh dunia berkumpul di Aula Kemerdekaan untuk merayakan proklamasi Hari Perdamaian Wanita Internasional. “Kita sekarang merayakan hari kedua ulang tahun. Ada suara kesedihan dan keprihatinan dari warga di seluruh dunia terkait pertumpahan darah di Myanmar. Selama peristiwa ini, IWPG terus mengeluarkan pernyataan yang menyerukan resolusi damai,” ujarnya.

Menurut Yoon, hukum internasional saat ini sulit untuk secara efektif memberikan sanksi terhadap perang, sehingga untuk menyelesaikan masalah tersebut, 10 pasal dan 38 klausul DPCW diperlukan untuk mewujudkan perdamaian dunia.
“Ini adalah jawaban terobosan untuk perdamaian yang mengkompensasi kemungkinan celah hukum internasional saat ini,” tandasnya.
Dalam vidio ucapan selamat, Man Hee Lee menyatakan bahwa ia dan peserta dialog adalah satu keluarga di dunia ini. “Mari bersatu dan mewujudkan dunia yang penuh kebebasan, damai, dan kasih,” katanya seraya berharap perkembangan dan kemuliaan yang luar biasa bagi IWPG.
Sementara, Hakim Louis Otis dari Kanada menyatakan bahwa misi IWPG adalah menciptakan dunia di mana 3,8 miliar wanita di seluruh dunia akan bersatu untuk mewujudkan kesetaraan gender, merebut perang, dan mencapai perdamaian dunia. “IWPG melakukan kegiatan, kampanye di seluruh dunia dalam rangka mengembang kan kolaborasi dan kerjasama,” ujarnya.
Menurut Hakim, IWPG mendukung dan mendesak agar deklarasi perdamaian menjadi instrumen yang mengikat secara hukum dan mempromosikannya agar di tetapkan sebagai hukum internasional.

“Tujuan utama IWPG adalah untuk memberikan pendidikan perdamaian bagi perempuan dan untuk mengubah budaya diskriminasi, kekerasan dan konflik menjadi budaya damai,” pungkasnya.
Untuk di ketahui, IWPG berkantor pusat di Korea Selatan dan memiliki 100 cabang di 130 negara di seluruh dunia. Acara peringatan “Hari Perdamaian Wanita Internasional” akan di adakan setiap tahun untuk mendorong dukungan dari 10 pasal dan 38 klausul dari “DPCW”.
IWPG menyatakan bahwa “Surat Tulisan Tangan untuk Perdamaian” yang dikirimkan kepada para kepala negara dan kegiatan menyebarkan budaya perdamaian akan terus berkembang.
Pewarta : Rls/Red














