DEMOKRASINEWS, Tulang Bawang, 17 September 2026 — Usia 69 tahun tidak menyurutkan langkah Muhammad Toyyib untuk terus berdakwah. Lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 11 Juli 1957, ia memilih jalan hidup sebagai dai dan mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membina umat di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, dan sekitarnya.
Di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah Tulang Bawang, sosok M. Toyyib dikenal sebagai mubalig yang hingga kini masih aktif mengisi kajian, menjadi khatib Jumat, serta melakukan pembinaan jamaah dan generasi muda. Di tengah aktivitas dakwahnya, ia juga memiliki kiprah di dunia jurnalistik sebagai wartawan Majalah Tabligh, media yang dikelola Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Wartawan DemokrasiNews.co.id berkesempatan mewawancarai M. Toyyib secara eksklusif di Masjid Al-Hajri, Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Senin (14/9/2026).
Awalnya, M. Toyyib sempat keberatan ketika hendak diwawancarai mengenai perjalanan hidup dan kiprahnya sebagai dai. Ia khawatir kisah tersebut justru dipandang sebagai bentuk pamer atau riya.
Namun, setelah mendapat penjelasan bahwa kisah tersebut dapat menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi muda, ia akhirnya bersedia berbagi pengalaman. Ia pun menunjukkan sejumlah dokumen yang menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Salah satunya adalah Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 610/STG 12/D/2009 yang menugaskan Muhammad Toyyib sebagai Dai Khusus Muhammadiyah. Dalam surat tersebut, wilayah tugasnya meliputi Kecamatan Menggala, Gedung Aji, Meraksa Aji, Rawa Jitu Selatan, Indo Lampung, dan Banjar Agung. Penugasan tersebut mulai berlaku sejak 1 Maret 2009 dan hingga kini masih dijalankannya.
Selain dokumen penugasan sebagai dai, M. Toyyib juga menunjukkan kartu pers atas namanya sebagai wartawan Majalah Tabligh. Majalah tersebut merupakan media bulanan yang dikelola Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta dan didistribusikan ke berbagai tingkatan organisasi Muhammadiyah, mulai dari ranting hingga pusat, termasuk cabang Muhammadiyah di sejumlah negara.
Kiprah M. Toyyib di lingkungan Muhammadiyah Tulang Bawang juga cukup panjang. Ia pernah menjadi bagian dari Pleno Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulang Bawang periode 2015–2020. Masa kepengurusan tersebut kemudian diperpanjang selama dua tahun akibat pandemi Covid-19.
Hingga kini, ia masih aktif dalam kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulang Bawang melalui Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM). Ia juga rutin mengisi kajian yang diselenggarakan pengurus ranting maupun cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah di wilayah tersebut.
Sebagai Dai Khusus Muhammadiyah, M. Toyyib menjelaskan bahwa tugasnya tidak sebatas menyampaikan ceramah. Ia aktif menjadi khatib Jumat, mengisi pengajian, mengajarkan Al-Qur’an, memakmurkan masjid, membina jamaah, serta memberikan perhatian terhadap pembinaan generasi muda.
Pengabdiannya bahkan pernah membawanya ke Kota Padang, Sumatera Barat. Saat itu, ia mendapat penugasan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk berdakwah di lokasi bencana. Penugasan tersebut merupakan bagian dari upaya pendampingan masyarakat pascabencana, termasuk menghadapi berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang muncul di tengah kondisi masyarakat yang terdampak.
Dalam menyampaikan dakwah, M. Toyyib berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Baginya, dakwah merupakan pengabdian yang harus terus dilakukan selama masih diberikan kesempatan dan usia oleh Allah SWT.
Saat ini, selain aktif di KMM PDM Tulang Bawang, M. Toyyib juga tergabung dalam Korps Mubaligh Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung.
Di penghujung wawancara, ia menyampaikan pesan kepada generasi muda Muhammadiyah agar tidak kehilangan semangat dalam berdakwah dan membesarkan persyarikatan.
Ia mengingatkan kembali pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang hingga kini menjadi prinsip penting dalam pengabdian di Muhammadiyah: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Pesan tersebut menjadi penutup kisah panjang seorang dai yang memilih mengabdikan perjalanan hidupnya untuk dakwah, pembinaan umat, sekaligus tetap menekuni dunia jurnalistik sebagai bagian dari ikhtiar menyampaikan informasi dan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.(Red/Sendi Gunawan)














