DEMOKRASINEWS, Lampung Selatan,2 November 2026 – Pengakuan seorang pria yang mengaku menjadi korban pembegalan di Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, ternyata hanya rekayasa. Pria bernama Muhamad Ali (33) itu sengaja membuat cerita menjadi korban begal setelah uang pinjaman Rp 5,5 juta habis digunakan untuk bermain judi online (judol).
Fakta tersebut terungkap setelah video pengakuannya viral di media sosial. Kasatreskrim Polres Lampung Selatan AKP Stefanus Reinaldo Fajar Nuswantoro Boyoh memastikan peristiwa pembegalan yang disebut terjadi pada Sabtu (31/10/2026) itu tidak pernah terjadi.
“Yang kemarin itu rekayasa korban,” kata Stefanus, Minggu (1/11/2026).
Menurut Stefanus, Ali merekayasa peristiwa tersebut karena tertekan akibat tumpukan utang. Kondisi orang tuanya yang sedang sakit juga memperberat beban pikirannya.
“Motifnya karena stres banyak utang akibat judol, dan orang tuanya juga sedang sakit,” ujarnya.
Setelah video tersebut viral, Ali mendatangi Polres Lampung Selatan dan membuat surat pernyataan yang mengakui bahwa peristiwa pembegalan itu tidak benar. Dia juga menyatakan tidak membuat laporan polisi terkait kejadian tersebut.
“Iya, karena viral kemarin, yang bersangkutan membuat pernyataan tidak membuat laporan. Memang kejadian kemarin tidak ada,” jelas Stefanus.
Dalam surat pernyataannya, Ali mengungkapkan uang Rp 5,5 juta yang menjadi pokok cerita pembegalan berasal dari pinjaman. Rinciannya, Rp 2,7 juta dan Rp 2,5 juta dipinjam dari seorang perempuan bernama Murnah, sedangkan Rp 300 ribu lainnya berasal dari pinjaman tetangganya.
Dari total uang tersebut, Ali menggunakan Rp 1,5 juta untuk membayar utang kepada seseorang bernama Sartam dan Rp 400 ribu untuk membeli kebutuhan sembako. Sementara itu, sisa Rp 3,6 juta dihabiskan untuk berjudi online.
“Sisa uang sebesar Rp 3,6 juta justru dihabiskan untuk bermain judi online,” beber Stefanus.
Ali mengaku berharap memperoleh keuntungan dari perjudian tersebut agar bisa melunasi utangnya. Namun, harapan itu tidak terwujud. Uang jutaan rupiah yang dipinjamnya justru habis tanpa menghasilkan keuntungan.
Kondisi itu membuat Ali semakin panik. Dia masih memiliki sejumlah utang di luar pinjaman bank dan terus mendapat tagihan dari para pemberi pinjaman. Ali juga tidak ingin orang tuanya mengetahui persoalan tersebut karena sedang menderita sakit jantung.
Dalam kondisi tertekan, Ali kemudian menyusun cerita seolah-olah menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas). Dia bahkan membuat luka lecet pada tubuhnya untuk memperkuat cerita tersebut.
“Dalam kondisi tertekan, Ali akhirnya berinisiatif membuat cerita seolah-olah menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas) atau pembegalan. Dia bahkan membuat seolah-olah mengalami luka akibat serangan pelaku begal,” ungkap Stefanus.
Stefanus menegaskan, luka yang terlihat dalam video tersebut bukan akibat serangan pelaku begal, melainkan dibuat sendiri.
“Iya, luka-luka lecet sendiri saja itu,” bebernya.
Sebelumnya, Ali mengaku dibegal dua orang bersenjata tajam di Jalan Desa Karang Pucung. Dia mengklaim mengalami luka bacok di bagian tangan dan kehilangan uang tunai Rp 6 juta.
Ali juga menyebut sepeda motornya sempat hendak dibawa kabur pelaku, tetapi gagal karena kendaraan tersebut kehabisan bensin.
Pengakuan tersebut belakangan terbantahkan setelah Ali mengakui sendiri bahwa cerita pembegalan itu merupakan rekayasa.(Red/Prie/HR)














