DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 24 Oktober 2026 — Pengelolaan gajah di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Taman Nasional Way Kambas, Lampung, mulai diarahkan pada pola perawatan yang lebih mengutamakan kesejahteraan satwa. Upaya ini mencakup pelatihan agar gajah dapat hidup berkelompok, bergerak lebih bebas, serta secara bertahap tidak lagi menggunakan rantai dan gancu.
Pendampingan dilakukan tim Elephant Nature Park (ENP) dari Chiang Mai, Thailand, yang berbagi pengalaman dan melatih gajah serta mahout atau pawang gajah di Way Kambas.
Founder and Director ENP Thailand, Saengduean “Lek” Chailert, mengatakan timnya yang berjumlah lima orang membantu memulihkan perilaku sosial gajah agar dapat kembali hidup berkelompok.
“Kami datang untuk melatih gajah agar menjadi kawanan, melepaskan gajah dari rantai dan membiarkan mereka menjadi keluarga lagi,” kata Lek.
Menurut dia, pola pengelolaan gajah di Way Kambas masih menggunakan rantai dan hook atau gancu. Ia menilai praktik tersebut perlu dievaluasi seiring upaya menerapkan pengelolaan yang lebih memperhatikan kesejahteraan satwa.
“Di sini mereka masih menggunakan rantai, masih menggunakan hook, dan itu perlu dilepaskan,” ujarnya.
Selain metode perawatan, Lek menyoroti kondisi sejumlah anak gajah yang menurut pengamatannya membutuhkan tambahan makanan dan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan serta kesehatannya.
“Anak-anak gajah di sini cukup kurus. Mereka membutuhkan lebih banyak nutrisi dan makanan,” katanya.
Pendampingan juga menyasar para mahout yang setiap hari merawat gajah. Sejumlah mahout Indonesia sebelumnya telah mengikuti pelatihan di proyek ENP di Thailand untuk mempelajari pendekatan perawatan gajah berbasis kesejahteraan satwa.
“Mereka sudah menerima pelatihan di proyek kami di Thailand dan memahami konsep bagaimana merawat gajah,” ujar Lek.
Untuk memperkuat proses tersebut, ENP mengirimkan seorang manajer mahout yang akan tinggal dan bekerja bersama tim di Way Kambas selama masa pendampingan. Kehadirannya diharapkan membantu penerapan pengetahuan dan keterampilan perawatan gajah secara langsung.
Sementara itu, Direktur Perencanaan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Dr. Ahmad Munawir, mengatakan kehadiran tim ENP menjadi kesempatan bagi pengelola Way Kambas untuk mempelajari pendekatan pengelolaan gajah yang lebih memperhatikan kesejahteraan satwa.
Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam mendorong pengelolaan gajah yang lebih baik, dengan memperhatikan kebutuhan biologis, kesehatan, dan perilaku alaminya. Keberhasilan upaya tersebut membutuhkan evaluasi berkelanjutan, pemenuhan kebutuhan nutrisi, peningkatan kapasitas mahout, serta penerapan metode perawatan yang sesuai dengan kondisi setiap gajah.
Melalui penguatan pengelolaan berbasis kesejahteraan satwa, Taman Nasional Way Kambas diharapkan semakin optimal menjalankan perannya sebagai kawasan konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) sekaligus pusat edukasi pelestarian satwa liar di Indonesia.( Red/Prie /Bun )














