DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 31 Agustus 2026 — Jauh sebelum Sribhawono dikenal sebagai sebuah desa yang tumbuh dan berkembang di Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, kawasan ini merupakan hamparan hutan belantara yang harus dibuka dengan kerja keras, keberanian, dan semangat para perintis,jelas Kepala Desa Sribhawono Buih Wisnu Prabowo.
Wisnu menjelaskan kepada tim DemokrasiNews.co.id tentang sejarah Desa Sribhawono yakni dimulai pada tanggal 3 September 1952, sebanyak 200 kepala keluarga eks pejuang kemerdekaan dari Lampung Tengah membuka kawasan tersebut melalui Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Mereka bukan sekadar membuka lahan untuk tempat tinggal. Di tengah keterbatasan pascakemerdekaan, para perintis itu sedang membangun sebuah kehidupan baru sekaligus meletakkan fondasi sebuah desa yang kelak memiliki perjalanan sejarah panjang.
Tanggal 3 September kemudian menjadi penanda penting bagi masyarakat Sribhawono. Setiap tahun, tanggal tersebut diperingati untuk mengenang jasa para perintis yang telah membuka kawasan itu dari hutan belantara menjadi permukiman dan pusat kehidupan masyarakat.

Di balik berdirinya desa tersebut terdapat sebuah organisasi bernama PRAJA, singkatan dari Prajurit Kerja. Organisasi itu dibentuk oleh para perintis sebagai wadah untuk mengatur kehidupan dan pekerjaan mereka. Semangat yang diusung sederhana, tetapi sarat makna: membangun desa yang rukun, aman, teratur, makmur, dan adil.
Struktur awal organisasi tersebut menempatkan Camat Labuhan Maringgai, Ilyas, sebagai pelindung. Suro Winoto dipercaya sebagai ketua umum, dengan Ruslim Mangku Projo sebagai ketua I dan Dul Syayid sebagai ketua II. Damiri menjadi sekretaris, Sarman sebagai bendahara, Diran menangani perbekalan, Ibrahim bertanggung jawab di bidang keamanan, sementara H. Embeng Usuf menangani hubungan masyarakat dan keagamaan.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa sejak awal, pembangunan Sribhawono tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Para pendirinya juga memikirkan bagaimana sebuah komunitas dapat hidup secara tertib, aman, saling menghormati, serta memiliki semangat kebersamaan.
Perjalanan Sribhawono semakin istimewa pada 1954. Desa yang saat itu masih dalam tahap awal pertumbuhan mendapat kunjungan sejumlah tokoh penting.
Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Dr. Mohammad Hatta, berkenan menanam pohon beringin di depan alun-alun. Pohon tersebut menjadi bagian dari jejak sejarah yang menghubungkan desa dengan perjalanan bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatra Selatan Dr. Muhammad Isa menanam kepala kerbau sebagai bagian dari tradisi tumbal desa. Sementara Residen Lampung Gely Harun, SH, mencangkul tanah yang kemudian menjadi lapangan di tengah pusat desa.
Bagi masyarakat, peristiwa itu bukan sekadar kunjungan pejabat negara. Ada simbol yang melekat pada setiap tindakan. Pohon beringin menggambarkan harapan akan keteduhan dan keteguhan, sementara tanah yang dicangkul menjadi penanda dimulainya pembangunan ruang bersama di tengah desa.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1956, Sribhawono diresmikan menjadi desa definitif di bawah pemerintahan Kecamatan Labuhan Maringgai.
Nama Sribhawono sendiri memiliki makna yang erat dengan cita-cita para pendirinya. “Sri” dimaknai sebagai padi atau pangan, sedangkan “Bhuwono” atau “Bhuwana” mengandung makna jagad atau dunia. Dalam pemaknaan masyarakat setempat, Sribhawono kemudian dikenal sebagai gambaran sebuah wilayah yang diharapkan menjadi lumbung padi atau lumbung pangan.
Nama tersebut seolah menjadi doa panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi: sebuah desa yang mampu menyediakan pangan, memberikan kehidupan, dan menjadi tempat masyarakat membangun masa depan.
Seiring perjalanan waktu, Sribhawono tidak berhenti berkembang. Desa ini bahkan pernah menjadi bagian dari peristiwa nasional yang cukup penting.
Pada 1969, Presiden Republik Indonesia Soeharto berkunjung ke Sribhawono untuk meresmikan proyek PT Mitsugoro, sebuah proyek kerja sama antara Mitsui dari Jepang dan Kosgoro dari Indonesia.
Kunjungan tersebut diikuti sejumlah tokoh nasional, antara lain Ibu Tien Soeharto, Alamsyah Ratu Perwiranegara, Jenderal M. Pangabean, Jenderal M. Sarbini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Paku Alam, Jenderal M. Isman, Jenderal Sudharto, serta Martono yang ketika itu menjabat Menteri Transmigrasi. Sejumlah pejabat tinggi negara dari pemerintah pusat maupun daerah juga turut hadir.
Peristiwa itu menjadi bagian lain dari sejarah Sribhawono. Desa yang dibuka oleh para eks pejuang kemerdekaan tersebut kemudian kembali menjadi saksi perjalanan pembangunan Indonesia.
Namun, pertumbuhan sebuah wilayah juga membawa konsekuensi. Ketika jumlah penduduk bertambah dan kebutuhan pemerintahan semakin luas, wilayah Sribhawono kemudian mengalami pemekaran.
Pada 1987, berdasarkan keputusan Lembaga Musyawarah Desa Sribhawono, wilayah desa dimekarkan menjadi tiga desa. Wilayah Sribhawono Utara menjadi Desa Srimenanti, wilayah Sribhawono Barat menjadi Desa Sripendowo, sedangkan wilayah Sribhawono Selatan menjadi Desa Waringin Jaya.
Proses pemekaran tersebut kemudian berlanjut hingga pada Maret 1991 desa-desa persiapan tersebut menjadi desa definitif sekaligus dilaksanakan pelantikan pejabat kepala desa.
Pemekaran tidak menghapus akar sejarah. Justru dari wilayah Sribhawono yang dahulu dibuka oleh 200 kepala keluarga, lahir sejumlah wilayah pemerintahan baru yang kemudian tumbuh dengan identitas masing-masing.
Perjalanan Sribhawono juga tidak dapat dilepaskan dari para kepala desa yang memimpin masyarakat dari masa ke masa.
Ibrahim tercatat menjabat sebagai kepala desa sejak 1956 hingga 1970. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan Siswantoro pada 1970–1977. Setelah itu, Muslim Noto Sudarmo memimpin pada 1980–1998 selama dua periode.
Pada 1999, kepemimpinan beralih kepada Sujarwo yang menjalankan tugas hingga 2017. Setelah itu, Buih Wisnu Prabowo memimpin Desa Sribhawono mulai 2017 hingga sekarang.
Pergantian kepemimpinan tersebut menggambarkan satu hal penting: sebuah desa dapat berubah secara fisik, sosial, dan ekonomi, tetapi ingatan tentang orang-orang yang membangunnya tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Kini, batas wilayah Desa Sribhawono telah berubah dibandingkan masa awal berdirinya. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Srimenanti, sebelah timur dengan Desa Mataram Baru, Kecamatan Mataram Baru, sebelah selatan dengan Desa Waringin Jaya dan Desa Wana, Kecamatan Melinting, serta sebelah barat dengan Desa Sripendowo.
Perubahan batas wilayah itu menjadi gambaran bagaimana sebuah desa berkembang mengikuti dinamika masyarakat dan pemerintahan.
Bagi masyarakat Sribhawono, sejarah bukan sekadar catatan tentang tahun dan nama tokoh. Sejarah adalah ingatan kolektif tentang bagaimana kehidupan hari ini dibangun dari kerja keras generasi sebelumnya.
Karena itulah setiap 3 September masyarakat biasanya memperingati hari berdirinya desa dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan, sosial, olahraga, dan keagamaan. Ziarah ke makam para perintis juga menjadi bagian penting dalam upaya mengenang mereka yang telah membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Kegiatan tersebut sempat tidak dapat dilaksanakan secara normal ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghapus makna peringatan. Justru di tengah perubahan zaman, nilai utama yang diwariskan para pendiri menjadi semakin penting untuk diingat.
Ada pesan sederhana dari sejarah Sribhawono: sebuah daerah tidak lahir begitu saja. Di balik sebuah jalan, lapangan, rumah, sekolah, tempat ibadah, dan ruang publik, terdapat kerja panjang orang-orang yang pernah berjuang membangun kehidupan dari titik awal.
Dari hutan belantara pada 1952, Sribhawono tumbuh menjadi sebuah desa dengan perjalanan sejarah yang panjang. Para perintisnya datang membawa semangat membangun, bukan sekadar untuk diri sendiri, tetapi untuk menciptakan kehidupan bersama yang rukun, aman, teratur, makmur, dan adil.
Hampir tiga perempat abad kemudian, warisan itu masih memiliki arti. Generasi hari ini mungkin tidak lagi harus membuka hutan dengan peralatan sederhana seperti para pendahulu mereka. Tantangannya telah berubah. Pembangunan kini berbicara tentang pendidikan, ekonomi, teknologi, pelayanan publik, lingkungan, kesehatan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Namun, fondasi moralnya tetap sama: bekerja bersama untuk kehidupan yang lebih baik.
Sribhawono dengan demikian bukan hanya sebuah nama di peta Lampung Timur. Ia adalah cerita tentang keberanian memulai, tentang para pejuang yang mengubah hutan menjadi ruang kehidupan, tentang desa yang pernah disinggahi tokoh-tokoh bangsa, dan tentang masyarakat yang terus menjaga ingatan terhadap akar sejarahnya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kisah itu menjadi pengingat bahwa masa depan yang kuat selalu membutuhkan penghormatan terhadap masa lalu.
Dan setiap kali 3 September tiba, masyarakat Sribhawono kembali diingatkan pada satu titik awal: 3 September 1952, ketika 200 kepala keluarga datang membuka hutan dan menanam harapan untuk sebuah kehidupan baru.(Redaksi / Supriyono).











