DEMOKRASINEWS, Mekah Al-Mukarramah, Kamis 21 Mei 2026 — Ketua MUI Kutai Kartanegara Kalimantan, KH. Abdul Sanan, dalam kuliah subuhnya mengingatkan para jamaah haji agar memanfaatkan kesempatan berada di Tanah Suci dengan memperbanyak ibadah dan menjaga kesehatan menjelang pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Menurutnya, seluruh jamaah yang hadir di Tanah Haram merupakan orang-orang pilihan yang mendapat panggilan langsung dari Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji.
“Manfaatkan kesempatan beribadah dengan sebaik-baiknya. Perbanyak sunah dan utamakan yang wajib. Siapkan kesehatan prima untuk pelaksanaan Armuzna. Insyaallah kita semua disempurnakan rukun Islamnya dan kembali menjadi haji yang mabrur,” pesan Abdul Sanan.

Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW:
“Barang siapa menghidupkan sunahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, niscaya ia bersamaku di surga.”
(HR. Tirmidzi dan Thabrani)
Meski demikian, Abdul Sanan mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan ibadah sunah yang berpotensi membahayakan kondisi fisik.
“Jangan mengerjakan sunah yang membahayakan,” tegasnya.
Selain memperbanyak ibadah, jamaah juga dianjurkan menambah wawasan sejarah Islam selama berada di Tanah Suci, sepanjang tidak mengganggu pelaksanaan ibadah utama. Banyak lokasi bersejarah di sekitar Masjidil Haram yang sering dilalui jamaah, namun belum sepenuhnya dipahami nilai sejarahnya.

Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq
Salah satu lokasi yang menarik perhatian jamaah adalah Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diyakini berdiri di atas bekas rumah sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Masjid ini berada di lantai 4 kompleks Makkah Towers atau Zamzam Tower dan berhadapan langsung dengan pelataran Masjidil Haram, tepat di dekat pintu masuk nomor 79. Lokasinya yang sejuk, teduh, dan nyaman menjadikan tempat ini pilihan favorit jamaah untuk beribadah maupun beristirahat sejenak setelah tawaf.
Dari area masjid, jamaah dapat menikmati pemandangan langsung ke kompleks Masjidil Haram. Lokasi tersebut dapat diakses menggunakan lift atau eskalator menuju lantai 4, kemudian berjalan ke sisi yang menghadap pelataran Masjidil Haram.
Masjid ini juga dikenal karena imamnya mengikuti siaran langsung salat fardu dari Masjidil Haram sehingga jamaah tetap dapat merasakan suasana salat berjamaah secara khusyuk.
Tiang Pengikat Buraq
Lokasi lain yang menjadi perhatian jamaah adalah Tiang Pengikat Buraq di area Masjidil Haram. Pilar tersebut diyakini sebagai tempat Malaikat Jibril menambatkan Buraq sebelum Nabi Muhammad SAW melaksanakan perjalanan Isra Mi’raj.
Letaknya berada di sisi barat kompleks Masjidil Haram, tepatnya di sekitar tangga dekat Gerbang Raja Abdulaziz atau Bab Malik Abdulaziz. Pilar ini memiliki ciri khas berbeda dibanding pilar modern lainnya, yakni terdapat cincin logam atau ornamen berbentuk segi delapan di bagian tengah tiang.
Warna pilarnya tampak lebih tua dengan nuansa abu-abu kecokelatan hingga kemerahan, sehingga mudah dikenali oleh jamaah yang ingin melihat jejak sejarah tersebut.
Banyak jamaah memanfaatkan momen setelah tawaf untuk singgah sejenak ke area tersebut sambil memperdalam pemahaman sejarah Islam.
Salah seorang jamaah asal Lampung Timur, Evy Sri Utami, mengaku kagum dengan kemegahan arsitektur peninggalan sejarah di Tanah Suci.
“Masya Allah, zaman Nabi sudah ada mahakarya seindah itu,” ujarnya penuh takjub.
Perjalanan ibadah haji tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga sarana memperkaya pengetahuan sejarah Islam yang dapat memperkuat keimanan dan kecintaan umat kepada perjuangan Rasulullah SAW.( Red/ Laporan Agustobationo dari Makkah )











