DEMOKRASINEWS, Makkah, 8 Mei 2026 – Hilir mudik Bus Shalawat 18 yang melayani jamaah haji Indonesia di sektor 7 dan 8 jalur Misfalah–Ajyad terus berlangsung tanpa henti selama 24 jam penuh. Di tengah padatnya arus jamaah menuju Masjidil Haram, layanan transportasi ini menjadi urat nadi mobilitas ribuan tamu Allah yang ingin memperbanyak ibadah di Tanah Suci.
Petugas transportasi menjelaskan, operasional bus diatur dalam dua shift pengemudi. Masing-masing bertugas selama 12 jam, dimulai pukul 10 pagi hingga 10 malam waktu setempat, kemudian dilanjutkan shift berikutnya hingga pagi hari.
“Layanan tetap berjalan nonstop untuk mendukung kebutuhan jamaah, terutama pada waktu-waktu ibadah malam,” ujar salah seorang petugas transportasi.

Memasuki malam hari, antrean jamaah di halte Bus Shalawat 18 justru semakin ramai. Banyak jamaah memanfaatkan layanan ini untuk mengejar keutamaan shalat malam di Masjidil Haram.
Suasana halte dipenuhi jamaah dari berbagai daerah di Indonesia yang rela menunggu giliran naik bus demi bisa menunaikan shalat tahajud dan berdoa di depan Ka’bah.
Perjalanan menuju Masjidil Haram memakan waktu sekitar tujuh hingga sepuluh menit. Namun karena kepadatan penumpang yang terus meningkat, jamaah diminta bersabar saat menunggu armada datang.
Bagi sebagian jamaah, penantian panjang bukan menjadi persoalan. Mereka meyakini setiap langkah menuju rumah Allah memiliki nilai ibadah tersendiri.
“Semakin malam semakin ramai. Semua ingin mencari keridhaan Allah lewat shalat sepertiga malam,” kata seorang jamaah asal Jawa Tengah sambil menggenggam tas kecil berisi sajadah dan mushaf Al-Qur’an.
Meski demikian, tidak sedikit jamaah yang memilih berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Selain untuk menghemat waktu, sebagian jamaah juga ingin menikmati suasana malam Kota Makkah yang dipenuhi lantunan talbiyah dan doa.
“Kalau menunggu terlalu lama, saya lebih memilih jalan kaki. Jaraknya sekitar 15 menit, hitung-hitung waktunya hampir sama dengan naik bus,” ujar Bagus, jamaah asal Bandar Lampung.
Di sepanjang jalan Misfalah menuju Ajyad, tampak jamaah berjalan beriringan sambil melafalkan dzikir. Langkah-langkah mereka terlihat ringan meski tenaga terkuras oleh cuaca dan aktivitas ibadah yang padat.
Bus Shalawat 18 bukan sekadar alat transportasi. Di balik hiruk-pikuk antrean dan perjalanan singkat menuju Masjidil Haram, tersimpan semangat jamaah Indonesia untuk memaksimalkan setiap detik ibadah di Tanah Suci.
Malam di Makkah pun seolah tidak pernah benar-benar tidur. Ketika sebagian orang terlelap, ribuan jamaah justru bergerak menuju Ka’bah, menjadi “pemburu shalatul lail” yang berharap mendapatkan ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











