DEMOKRASINEWS, Makkah, 5 Mei 2026 – Sore itu, sekitar pukul 15.10 waktu setempat, rombongan jamaah haji Indonesia tiba di hotel di kota suci Makkah. Wajah lelah perjalanan panjang tak mampu menyembunyikan rasa syukur dan haru yang terpancar. Setelah beristirahat sejenak, para jamaah bersiap menjalani rangkaian ibadah berikutnya: melaksanakan umrah wajib usai salat Isya.

Dari informasi team DemokrasiNews.co.id yang juga melaksanakan ibadah haji melaporkan dengan mengenakan pakaian ihram yang sederhana tanpa sekat status sosial, para jamaah memulai niat suci mereka. Sejak niat dilafalkan, hingga seluruh rangkaian umrah ditunaikan, mereka tetap dalam kondisi ihram. Suasana penuh kekhusyukan terasa ketika langkah demi langkah mengarah ke Masjidil Haram, pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.
Dalam bimbingan petugas haji Indonesia, jamaah Kloter JKG 7 yang terbagi di dua hotel berdekatan mendapatkan arahan teknis dan spiritual. Jarak hotel ke Masjidil Haram sekitar 1.600 meter, sekitar 20 menit berjalan kaki. Namun, bagi jamaah risiko tinggi (risti) dan lansia, disarankan menggunakan bus shalawat nomor 18 atau beribadah di hotel. “Pahalanya tetap sama, karena niat dan keterbatasan fisik juga diperhitungkan,” ujar salah satu petugas.
Di Tanah Haram, setiap amal ibadah memiliki keutamaan luar biasa. Salat di Masjidil Haram, misalnya, diyakini bernilai hingga 100.000 kali lipat dibandingkan di masjid biasa. Hal ini menjadi motivasi besar bagi jamaah untuk memaksimalkan setiap momen ibadah.
Selain menjalankan rukun umrah seperti tawaf mengelilingi Ka’bah dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, jamaah juga diajak memahami tempat-tempat mustajab untuk berdoa. Di antaranya adalah Multazam area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang menjadi tempat paling diidamkan untuk bermunajat dengan penuh harap.
Tak hanya itu, Hijr Ismail dipercaya memiliki keutamaan setara dengan berdoa di dalam Ka’bah. Sementara Maqam Ibrahim menjadi lokasi dianjurkan untuk salat sunnah dan berdoa setelah tawaf.
Di sudut lain, jamaah juga memanfaatkan momentum di Bukit Shafa dan Bukit Marwah saat melaksanakan sa’i, serta meminum air dari Sumur Zamzam yang penuh keberkahan.
Perjalanan spiritual ini bukan hanya tentang ritual, tetapi juga pembelajaran hidup. Kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan menjadi nilai utama yang dirasakan langsung oleh jamaah. Bahkan, interaksi antarjamaah dari berbagai daerah memperkuat rasa persaudaraan yang melampaui batas geografis.
Ibadah di Tanah Suci mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak hanya diukur dari jarak, tetapi dari ketulusan hati. Dan bagi para jamaah haji 2026, setiap langkah di Makkah adalah awal dari perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna. ( Red / Laporan Agustobationo dari Makkah )











