DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 5 April 2026 – Suasana pagi, Selasa 5 April 2026, diselimuti hujan rintik yang membasahi jalanan dari Kecamatan Sekampung menuju Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Namun, cuaca yang kurang bersahabat itu tak sedikit pun menghalangi langkah seorang jurnalis senior, Sembiring, untuk tetap menjalankan panggilan profesinya. Di usia yang telah menginjak sekitar 70 tahun, ia masih setia menapaki jalan pengabdian sebagai pewarta, menghadirkan informasi yang akurat dan inspiratif bagi masyarakat.

Perjalanan menuju Kantor Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Timur di Desa Negara Nabung bukan sekadar rutinitas. Bagi Sembiring, setiap langkah adalah bentuk dedikasi. Di tengah keterbatasan fisik yang kerap menyertai usia senja, semangatnya justru semakin menguat. Ia membuktikan bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan, melainkan profesi mulia yang sarat tanggung jawab.
“Saya lahir tahun 1955. Sampai hari ini, saya masih diberi kesehatan. Selama itu pula, saya ingin terus mengabdi sebagai jurnalis,” tuturnya dengan mata yang berbinar. Bagi Sembiring, profesi ini bukan tentang popularitas atau materi, melainkan tentang kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sejak muda, dunia jurnalistik telah menjadi impiannya. Ia meninggalkan tanah kelahirannya di Medan, Sumatera Utara, dan menjelajahi berbagai daerah di Nusantara, mulai dari Bali hingga Nusa Tenggara. Kini, Lampung Timur menjadi tempat terakhirnya berlabuh, sekaligus ruang pengabdian yang ia pilih untuk terus menebar inspirasi.
Di era digital yang serba cepat ini, Sembiring menyadari bahwa tantangan jurnalis semakin kompleks. Informasi begitu mudah tersebar melalui media sosial, namun tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah peran jurnalis diuji. Ia menegaskan bahwa tugas utama jurnalis bukan hanya mencari, menulis, dan menyampaikan berita, tetapi juga menjaga integritas dan mematuhi kode etik.
“Jurnalis tidak boleh menulis hal yang memecah belah, apalagi menyangkut SARA. Kita harus objektif dan bertanggung jawab agar dipercaya publik,” ujarnya. Baginya, setiap tulisan harus mampu memberi edukasi, membuka wawasan, dan bahkan menyentuh hati pembaca.
Meski usia tak lagi muda, Sembiring tetap berupaya meningkatkan kompetensinya. Ia mengikuti uji kompetensi jurnalis sebagai bentuk komitmen profesional. Baginya, belajar tidak mengenal batas usia. Setiap kata yang ditulisnya ia pilih dengan cermat, setiap kalimat ia rangkai dengan penuh makna, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat.
Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, ia ingin tulisannya menjadi jembatan antara fakta dan nurani. Ia percaya bahwa dari ujung pena, seorang jurnalis bisa menyalakan kesadaran, menggugah empati, dan mendorong perubahan.
Kisah Sembiring adalah potret nyata bahwa pengabdian tidak mengenal usia. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan zaman, ia tetap teguh menjaga nilai-nilai jurnalistik. Dari Lampung Timur, ia terus menulis, menginspirasi, dan mengingatkan bahwa profesi jurnalis adalah bagian penting dalam perjalanan mencerdaskan bangsa.
Di balik hujan rintik pagi itu, langkahnya mungkin tampak sederhana. Namun, dari sanalah lahir semangat besar, bahwa selama masih mampu menulis, selama itu pula ia akan terus mengabdi untuk negeri.( Redaksi Supriyono )











