DEMOKRASINEWS, Bandar Lampung — Sektor pariwisata Provinsi Lampung mencatat kinerja impresif sepanjang tahun 2025 dan semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu motor utama penggerak perekonomian daerah.
Pertumbuhan pesat ini tidak hanya tercermin dari lonjakan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari dampak ekonomi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sepanjang 2025, Lampung berhasil menarik 24.702.664 kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara, meningkat 53,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di Pulau Sumatera dan melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.

Tren positif ini menandai transformasi Lampung sebagai primadona baru pariwisata nasional, dengan performa ekonomi yang kian solid dan berkelanjutan.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah juga terbilang signifikan. Sepanjang 2025, pariwisata menyumbang nilai ekonomi mencapai Rp53.110.727.600.000 terhadap perekonomian Provinsi Lampung, jika dibandingkan dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Lampung Triwulan III Tahun 2025.
Dampak ekonomi tersebut dirasakan secara luas dan merata. Rata-rata pengeluaran wisatawan di Lampung pada 2025 diperkirakan mencapai Rp2.150.000 per orang per kunjungan, dengan total perputaran uang menembus Rp53,11 triliun.
Lebih dari 3.000 pelaku UMKM di sektor kuliner, kerajinan, jasa transportasi, hingga akomodasi turut merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas wisata.
Tak hanya itu, sektor pariwisata juga menyerap lebih dari 254.298 tenaga kerja, baik formal maupun informal. Kondisi ini berkontribusi langsung dalam menekan tingkat pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Lonjakan kunjungan wisatawan tersebut turut didukung oleh penguatan infrastruktur pariwisata. Hingga 2025, Lampung memiliki sekitar 544 hotel berbintang dan nonbintang dengan total kapasitas lebih dari 16 ribu kamar.
Tingkat hunian kamar (okupansi) rata-rata tercatat 48,93 persen, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sentra okupansi tertinggi berada di Bandar Lampung, Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Pesawaran.( Red/Ato/Prie/Rls Kominfotik Lampung )











