DEMOKRASINEWS, Sultra – Hari Perempuan Sedunia telah berlangsung selama lebih dari satu abad, dengan pertemuan UN Women guna membicara kan hal ini, pertama kali di adakan pada tahun 1911.
Diawali tahun 1908, saat itu terdapat 15.000 perempuan berunjuk rasa di New York City, Amerika Serikat. Belasan ribu perempuan tersebut berdemonstrasi menuntut beberapa hak, seperti pemotongan jam kerja, gaji yang sepadan, hingga hak perempuan untuk ikut pemilu.
Sesuai deklarasi Partai Sosialis Amerika Serikat, Hari Perempuan Nasional pertama di peringati pada tanggal 28 Februari 1909 di AS. Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret kemarin, kesetaraan gender tak perlu lagi sekadar wacana susuai dengan deklarasi awalnya. Melainkan harus diperjuangkan.
“Tema Hari Perempuan International tahun ini “choose to challenge” harus kita jadikan komitmen bersama. Harus berani menantang, menyeruakan tentang bias dan ketidak setaraan gender, serta membentuk dunia yang inklusif,”
Terkhusus Indonesia, pemberdayaan perempuan dan tercapainya kesetaraan gender merupakan masalah hak asasi manusia dan ketidakadilan sosial, dan tidak tepat apabila dipersepsikan sebagai isu perempuan saja, karena masalah dan kondisi sosial tersebut merupakan persyaratan dalam proses pembangunan masyarakat yang adil.
Kesetaraan akan meningkatkan kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan menjalankan pemerintahan secara efektif. Dengan demikian, meningkatkan kesetaraan gender adalah bagian penting dari strategi pembangunan untuk mengartikulasikan kepentingannya.
Lewat memontum ini Savana Merah mendukung Pengesahan RUU PKS dan di harapkan dapat menjadi UU yang lebih Korperensif, agar dapat terjadi permberdayaan perempuan yang adil dan berdaya saing.
Pewarta : Fitra Wahyuni











