DEMOKRASINEWS, Makkah Al-Mukarramah, 23 Mei 2026 — Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M, jemaah KBIHU Safir Madina Kloter 7 JKG mengikuti pembinaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang digelar di lantai satu Moro Global Hotel, Sabtu (23/5/2026).
Meski berlangsung di lorong hotel dengan keterbatasan tempat, suasana pembinaan tetap berjalan khidmat dan penuh perhatian dari para jemaah.
Pembimbing haji, KH. Purna PPHI Bandar Lampung, mengingatkan jemaah agar mulai mengatur ritme ibadah sunnah demi menjaga kondisi fisik menghadapi puncak haji yang sudah di depan mata.

“Mendekati puncak haji, kegiatan ibadah sunnah hendaknya diatur ritmenya. Jangan sampai kita sibuk mengejar sunnah, namun akhirnya tepar saat puncak haji,” ujar KH. Purna.
Ia menegaskan bahwa kondisi fisik jemaah harus benar-benar prima saat memasuki fase Armuzna yang dikenal sangat padat dan menguras tenaga.
“Menyongsong Armuzna, fisik jemaah haji harus prima,” tambahnya.
Sementara itu, pembimbing agama KH. Safari menyampaikan bahwa bekal utama menuju wukuf di Arafah bukan hanya kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan spiritual.
Menurutnya, ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan jemaah, yakni takwa, sabar, dan ilmu.
“Taqwa menjadi fondasi utama. Bersihkan hati, luruskan niat hanya karena Allah SWT, bukan karena harta atau sekadar ingin mendapat gelar haji,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya saling memaafkan serta menghilangkan penyakit hati sebelum memasuki puncak ibadah haji.
Selain itu, kesabaran menjadi kunci selama pelaksanaan Armuzna. Jemaah diperkirakan akan menghadapi antrean panjang, kepadatan manusia, hingga kondisi yang membutuhkan ketenangan dan pengendalian diri.
“Bisa jadi kita lama menunggu bus atau berhimpitan dengan jemaah lain. Semua itu membutuhkan kesabaran,” katanya.
KH. Safari turut menekankan pentingnya ilmu dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.
“Segala sesuatu harus dijalankan dengan ilmu. Jangan sampai beribadah tanpa ilmu karena bisa menjadi sia-sia,” ujarnya.
Dalam pembinaan tersebut, jemaah juga diingatkan untuk menjaga sikap selama ihram dengan menghindari rafats, fasik, dan jidal, yakni berkata kotor, mengeluh berlebihan, marah, maupun berbantah-bantahan.
Persiapan Menjelang Wukuf
Tahun ini, penetapan 1 Dzulhijjah 1447 H antara Arab Saudi dan Indonesia sama-sama jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, pemberangkatan jemaah menuju Arafah dimulai pada 8 Dzulhijjah atau sehari sebelum pelaksanaan wukuf.
Selama pelaksanaan Armuzna, jemaah akan menjalani rangkaian ibadah dalam waktu cukup panjang, mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, hingga melontar jumrah, tawaf, sa’i, dan tahallul di tengah jutaan manusia dari berbagai negara.
Karena itu, menjaga kesehatan jasmani dan rohani menjadi persiapan paling utama.
Para pembimbing juga mengingatkan sejumlah hal penting yang perlu dipersiapkan jemaah, antara lain:
- mandi sunnah ihram sebelum mengenakan pakaian ihram,
- menyiapkan perlengkapan pribadi secukupnya,
- membawa obat-obatan dan perlengkapan mandi,
- membawa buku doa dan mushaf Al-Qur’an kecil,
- serta menjaga kekompakan bersama regu dan rombongan.
Ketua KBIHU Safir Madina, H. Ihsan, mengingatkan agar jemaah tidak meninggalkan rombongan selama pelaksanaan Armuzna demi menghindari risiko tersesat atau terpencar dari kelompok.
“Kontribusi jemaah dalam menciptakan ekosistem haji yang nyaman dan aman sangat diperlukan. Karena itu, seluruh jemaah harus aktif bekerja sama agar pelaksanaan haji berjalan sukses,” ujarnya.
Ia juga mengimbau jemaah tetap berada di area kemah sesuai maktab masing-masing selama pelaksanaan Armuzna.
Sementara itu, Ketua Kloter JKG 7, Winardi, menyampaikan rasa syukur karena posisi tenda jemaah dinilai cukup strategis.
“Alhamdulillah, tenda kita berada di maktab 71/65, dekat dengan fasilitas WC dan tidak jauh dari terowongan Mina,” katanya.
Di tengah lautan manusia yang berkumpul di Tanah Suci, pembinaan Armuzna menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menuntut kesabaran, keikhlasan, ilmu, dan kebersamaan demi meraih haji yang mabrur.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











