DEMOKRASINEWS, Pangalengan, Bandung Selatan,22 September 2026 — Gemericik air, udara pegunungan yang dingin, dan kicau burung menjadi pembuka pagi di Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat, Selasa (22/9/2026). Di tengah suasana alam yang tenang itu, para jurnalis justru bersiap menghadapi tantangan yang memacu adrenalin: arung jeram atau rafting.
Bagi sebagian orang, menyusuri sungai dengan perahu karet mungkin menjadi aktivitas rekreasi biasa. Namun, bagi mereka yang baru pertama kali mencobanya, arung jeram adalah pengalaman yang mempertemukan rasa takut, keberanian, dan kepercayaan kepada orang lain.
Pengalaman itulah yang dirasakan dalam kegiatan gathering bersama jurnalis dari Kepulauan Seribu dan Provinsi Lampung bersama tim PHE OSES dan SKK Migas.
Sejak pagi, udara Pangalengan terasa sejuk. Kawasan perbukitan yang berada di selatan Bandung tersebut menawarkan suasana berbeda dari hiruk-pikuk perkotaan. Pepohonan, perkebunan, serta aliran sungai menciptakan lanskap alami yang membuat siapa pun sejenak melupakan kesibukan sehari-hari.
Namun, ketenangan itu segera berubah ketika rombongan bersiap menuju Sungai Palayangan.

Arung jeram di kawasan Pangalengan dikenal memanfaatkan aliran Sungai Palayangan yang berada di sekitar kawasan Situ Cileunca. Jalur pengarungan menawarkan perpaduan antara jeram, aliran sungai, dan panorama alam pegunungan.
Bagi saya, tantangan sebenarnya bukan sekadar menghadapi derasnya air.
Tantangan pertama justru datang dari dalam diri sendiri.
Ada rasa ragu. Ada kekhawatiran karena ini merupakan pengalaman pertama. Berbagai pertanyaan sempat muncul: bagaimana jika perahu terbalik? Apakah mampu mengikuti arahan pemandu? Dan bagaimana rasanya ketika harus berhadapan langsung dengan derasnya arus sungai?
Tetapi keraguan itu akhirnya dikalahkan oleh keinginan untuk mencoba.
Setelah mengenakan perlengkapan keselamatan dan mendapatkan pengarahan dari pemandu, kami mulai menaiki perahu karet. Dayung digenggam erat. Setiap peserta harus mengikuti instruksi agar perahu dapat melewati jeram dengan baik.
Begitu perahu mulai bergerak, rasa takut perlahan berubah menjadi kegembiraan.
Teriakan spontan pecah ketika perahu menghantam arus. Sesekali tubuh terguncang mengikuti gerakan air. Di sela-sela jeram, canda dan tawa justru semakin membuat suasana mencair.
Air sungai yang dingin bahkan menjadi bagian dari keseruan. Tidak ada lagi sekat antara profesi, daerah asal, maupun rutinitas pekerjaan. Semua larut dalam pengalaman yang sama.
Di situlah makna gathering terasa lebih dalam.
Kebersamaan tidak selalu dibangun melalui ruang pertemuan, diskusi, atau jamuan makan. Kadang, sebuah pengalaman sederhana, seperti duduk berdampingan di atas perahu karet dan menghadapi arus bersama, justru mampu menciptakan ikatan yang lebih kuat.
Arung jeram juga mengajarkan satu hal penting: keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah ketika seseorang memilih untuk melangkah meski rasa takut masih ada.
Pengalaman tersebut menjadi semakin berkesan karena seluruh peserta saling memberi semangat. Ketika arus menguat, instruksi pemandu menjadi pegangan. Ketika ada peserta yang ragu, dukungan teman-teman menjadi penyemangat.
Setelah pengarungan berakhir, lelah terasa sepadan dengan pengalaman yang didapat.
Yang tersisa bukan hanya pakaian basah atau tubuh yang menggigil karena dinginnya air, tetapi juga cerita yang akan dibawa pulang.
Pangalengan hari itu tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya kegiatan gathering. Sungai Palayangan menjadi ruang tempat keberanian diuji, kekompakan dibangun, dan persahabatan tumbuh melalui pengalaman bersama.
Bagi para jurnalis dan tim PHE OSES serta SKK Migas yang mengikutinya, arung jeram menjadi lebih dari sekadar aktivitas wisata.
Ia menjadi pengingat bahwa perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.
Dan terkadang, untuk menemukan cerita yang paling berkesan, seseorang memang harus berani keluar sebentar dari zona nyamannya, lalu membiarkan arus membawa dirinya menuju pengalaman baru.(Supriyono)














