DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 1 September 2026 — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus diperkuat. Hingga Senin (31/8/2026), tidak lagi ditemukan titik api di kawasan konservasi tersebut.
Kondisi itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau langsung kawasan Pusat Konservasi Gajah TNWK bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Polda Lampung, Balai TNWK, serta jajaran terkait.
“Alhamdulillah, berdasarkan laporan, sudah tidak ada lagi titik api di kawasan TNWK yang memiliki luas sekitar 120 ribu hektare,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Meski titik api telah dinyatakan tidak ditemukan, kewaspadaan belum diturunkan. Personel gabungan tetap disiagakan untuk melakukan pemantauan, penyisiran, serta merespons cepat apabila kembali muncul potensi kebakaran.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat kawasan TNWK merupakan wilayah konservasi yang memiliki nilai ekologis tinggi dan menjadi habitat berbagai satwa liar dilindungi, termasuk gajah Sumatera.
Kabar baik juga datang dari Pusat Konservasi Gajah TNWK. Gajah-gajah Sumatera yang berada di kawasan tersebut terpantau dalam kondisi sehat dan beraktivitas normal. Sejumlah gajah, termasuk anak-anak gajah, terlihat aktif makan dan bermain.
“Kami melihat langsung gajah-gajah, termasuk anak-anak gajah, yang masih aktif makan dan bermain,” kata Rahmat.
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menegaskan, TNWK bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan aset berharga daerah yang harus dijaga secara bersama-sama.
“TNWK bukan hanya milik pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga kawasan ini, lindungi satwa di dalamnya, dan ciptakan lingkungan yang aman bagi masyarakat maupun gajah,” tegas Ela.
Menurutnya, perlindungan Way Kambas membutuhkan kolaborasi pemerintah, aparat, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat yang tinggal di sekitar taman nasional.
Selain penanganan karhutla, pemerintah juga terus menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat perlindungan habitat sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan gajah.
Upaya tersebut antara lain melalui pembangunan pagar dan fasilitas penghalang agar gajah tidak keluar dari habitatnya, pengembangan budidaya serai dan lebah, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung deteksi dini karhutla.
Program berbasis masyarakat tersebut diharapkan tidak hanya menjaga satwa dan kawasan hutan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga di sekitar TNWK. Dengan demikian, kepentingan konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karhutla di TN Way Kambas menjadi pengingat bahwa menjaga hutan bukan hanya soal memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Sistem pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan personel, perlindungan habitat, dan keterlibatan masyarakat harus berjalan secara berkelanjutan.
TN Way Kambas adalah rumah bagi gajah Sumatera sekaligus salah satu benteng penting konservasi di Lampung. Karena itu, memastikan kawasan tetap aman dari karhutla berarti menjaga ekosistem, melindungi satwa, sekaligus mempertahankan sumber kehidupan masyarakat sekitar.
“Jaga hutan, lindungi satwa, cegah karhutla. Way Kambas adalah warisan yang harus dirawat bersama untuk generasi mendatang”.( Red/Supriyono )











