DEMOKRASINEWS, Mekkah Al-Mukarramah, 3 Juni 2026 — Banyak cara dilakukan untuk melayani tamu Allah agar mereka merasa nyaman, tenteram, dan mendapatkan pelayanan terbaik selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Hairun Ihsan, pemilik KBIHU Safir Madina.
Bagi Hairun Ihsan, pelayanan kepada jamaah bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari ibadah. Karena itu, ia berupaya memastikan seluruh jamaah yang tergabung dalam KBIHU Safir Madina memperoleh pendampingan dan pelayanan optimal selama menjalankan ibadah umrah maupun haji.
Selama musim haji 2026, KBIHU Safir Madina menghadirkan berbagai program pelayanan yang meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah. Salah satu yang paling membekas adalah kesempatan mencium Hajar Aswad di Masjidil Haram.

Mewujudkan Impian Mencium Hajar Aswad
Sebelum pelaksanaan, Hairun Ihsan mengajak para ketua rombongan dan ketua regu sebagai perwakilan jamaah untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Dengan mengenakan pakaian ihram dan dalam keadaan suci, mereka berangkat menggunakan bus shalawat menuju Masjidil Haram.
Setibanya di sana, kegiatan diawali dengan salat hajat dua rakaat dan doa bersama agar Allah SWT memberikan kemudahan untuk mendekati serta mencium Hajar Aswad.
“Kita memohon kepada Allah SWT agar malam ini diberikan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad. Karena sesungguhnya umat Islam disunnahkan untuk menciumnya, mengusapnya, atau memberikan isyarat dengan tangan,” ujar Hairun Ihsan kepada jamaah.
Doa dan ikhtiar itu akhirnya berbuah manis. Seluruh anggota rombongan berhasil mencium Hajar Aswad.
Salah seorang jamaah, Afan, mengaku pengalaman tersebut menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan.
“Ini adalah one trip, one life. Pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup dan belum tentu terulang lagi di masa depan,” ungkapnya.
Menyusuri Jejak Sejarah di Madinah
Pelayanan KBIHU Safir Madina tidak berhenti di Mekkah. Saat berada di Madinah, jamaah diajak mengikuti dua program wisata religi yang sarat nilai edukasi.
Program pertama dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan sekitar Masjid Nabawi. Jamaah diperkenalkan dengan berbagai lokasi penting, termasuk Raudhah, makam Rasulullah SAW, mimbar Nabi, serta sejumlah bagian ikonik Masjid Nabawi seperti payung raksasa dan kubah yang dapat membuka dan menutup secara otomatis.
Selain menjadi pusat ibadah, Masjid Nabawi juga memberikan pengalaman spiritual mendalam bagi jamaah. Mereka dapat merasakan suasana yang pernah menjadi pusat dakwah Rasulullah SAW.
Program kedua dilakukan menggunakan bus menuju sejumlah destinasi bersejarah di Madinah, seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, dan kebun kurma yang menjadi salah satu daya tarik khas kota tersebut.
Mengenal Lebih Dekat Sejarah Mekkah
Setelah mengambil miqat di Masjid Bir Ali dan tiba di Mekkah, jamaah diberi kesempatan beristirahat sebelum melaksanakan umrah wajib.
Keesokan harinya, Hairun Ihsan mengajak jamaah mengenal berbagai situs bersejarah di sekitar Masjidil Haram. Di antaranya lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang kini menjadi perpustakaan, Masjid Jin, Pemakaman Ma’la tempat dimakamkannya Sayyidah Khadijah RA, serta sejumlah bangunan bersejarah lainnya di kawasan pusat Kota Mekkah.
Jamaah juga diperkenalkan dengan lokasi Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) serta area tenda yang ditempati jamaah Indonesia, khususnya Kloter JKG 7 Bandar Lampung.
“Alhamdulillah, lokasi tenda kita cukup dekat dengan terowongan Mina sehingga memudahkan mobilitas jamaah,” kata Hairun Ihsan.
Napak Tilas Perjuangan Rasulullah
Selain ibadah wajib, jamaah juga diajak mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah lainnya, seperti Jabal Rahmah yang diyakini sebagai tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa, kawasan Jabal Nur tempat Gua Hira berada, serta Masjid Tan’im atau Masjid Aisyah sebagai lokasi mengambil miqat.
Menurut Hairun Ihsan, kegiatan wisata religi bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sarana untuk mengenang dan memahami perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
“Tujuannya adalah napak tilas jejak dakwah Rasulullah SAW. Ketika jamaah membayangkan bagaimana beratnya perjuangan beliau di masa itu dengan segala keterbatasan transportasi, teknologi, dan sarana yang ada, diharapkan tumbuh kecintaan yang lebih besar kepada Rasulullah dan agama Islam,” jelasnya.
Menutup Perjalanan dengan Wisata ke Thaif
Menjelang kepulangan ke Indonesia, KBIHU Safir Madina kembali memberikan pengalaman istimewa kepada jamaah melalui wisata religi ke Kota Thaif.
Di kota yang terkenal dengan udara sejuk tersebut, jamaah mengunjungi peternakan unta, menikmati susu unta segar, serta melihat langsung anak unta yang baru lahir yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.
Perjalanan dilanjutkan menuju kawasan kereta gantung (teleferik) yang menawarkan panorama pegunungan dan lembah Thaif dari ketinggian. Jamaah juga diajak mengunjungi pabrik penyulingan bunga mawar yang menjadi salah satu ikon kota tersebut.
Rangkaian wisata ditutup dengan ziarah ke makam Abdullah bin Abbas, mengunjungi Masjid Addas, serta mengambil miqat di Qarnul Manazil sebelum kembali ke Mekkah.
Pelayanan yang Membekas di Hati Jamaah
Bagi para jamaah, pelayanan yang diberikan KBIHU Safir Madina meninggalkan kesan mendalam. Selain memberikan bimbingan ibadah, Hairun Ihsan dinilai mampu membaca kebutuhan jamaah dan mengambil keputusan dengan cepat di berbagai situasi.
“Jam terbang memang membuat Pak Hairun Ihsan semakin matang. Beliau cepat bertindak dan pandai memanfaatkan momentum demi kenyamanan jamaah,” ujar Robiah, salah seorang jamaah asal Bandar Lampung.
Bagi Hairun Ihsan, melayani tamu Allah harus dilakukan dengan hati dan niat ibadah. Dengan niat tersebut, setiap tugas terasa lebih ringan dan membahagiakan.
Menutup perbincangan, ia berpesan kepada jamaah agar senantiasa memanfaatkan kesempatan beribadah sebaik mungkin.
“Ibadah yang bisa dilaksanakan hari ini, jangan ditunda sampai besok,” pesannya.
Pesan sederhana itu menjadi penutup perjalanan panjang yang tidak hanya menghadirkan pengalaman spiritual, tetapi juga meninggalkan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan para jamaah sepanjang hayat.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah)











