DEMOKRASINEWS, Makkah, 11 Mei 2026 – Masjidil Haram menjadi tempat bertemunya jutaan umat Muslim dari berbagai negara. Namun di tengah lautan manusia itu, jamaah asal Indonesia ternyata memiliki tempat tersendiri di hati banyak penduduk dan petugas di Kota Suci.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dikenal luas oleh masyarakat Makkah. Keramahan, kesopanan, serta kebiasaan bersedekah membuat jamaah Indonesia begitu mudah dikenali dan disukai.
“Assalamualaikum Indonesia… Masya Allah…”

Sapaan itu kerap terdengar dari para petugas Askar, petugas kebersihan atau housekeeping, hingga pedagang di sekitar Masjidil Haram. Sapaan sederhana yang meninggalkan kesan hangat bagi jamaah Tanah Air.
Bukan tanpa alasan mereka menyambut jamaah Indonesia dengan ramah. Para petugas Askar misalnya, mengaku senang mengatur jamaah asal Indonesia karena dikenal tertib dan mudah diarahkan.
Saat arus jamaah padat usai salat, petugas cukup mengatakan,
“Haji… Hajah… tawaf… tawaf…”
Maka jamaah Indonesia dengan sigap mengikuti arahan untuk berpindah tempat. Sikap tertib dan kooperatif inilah yang membuat jamaah Indonesia mendapat penilaian positif.
Cerita serupa disampaikan Zikwan, jamaah asal Bandar Lampung. Ia mengaku mendapat pelayanan hangat dari petugas housekeeping saat hendak berwudhu.
“Saya diarahkan ke tempat yang kering, lalu diberi tisu,” ceritanya haru.
Merasa tersentuh dengan pelayanan tersebut, Zikwan dengan ikhlas memberikan beberapa lembar uang riyal kepada petugas itu sebagai bentuk terima kasih.
Pengalaman hampir sama dialami Indarti, jamaah asal Bandar Lampung lainnya. Saat mengambil air zam-zam di sekitar Masjidil Haram, ia disapa ramah oleh petugas housekeeping.
“Assalamualaikum,” sapa petugas itu sambil membantu mengambilkan air zam-zam.
Indarti pun dengan senang hati memberikan uang riyal kepada petugas tersebut. Baginya, keramahan kecil di negeri orang menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Jika diperhatikan, perlakuan hangat seperti ini ternyata banyak dirasakan jamaah Indonesia. Tidak hanya di area masjid, bahkan di sepanjang jalan menuju dan kembali dari Masjidil Haram, sapaan ramah sering terdengar.
Sebagian besar petugas housekeeping diketahui berasal dari Bangladesh. Meski memiliki keterbatasan bahasa, mereka berusaha menyapa jamaah Indonesia dengan beberapa kata sederhana dalam Bahasa Indonesia sambil tersenyum ramah.
Kedermawanan jamaah Indonesia rupanya menjadi bahasa universal yang dipahami semua orang.
Cerita lain datang dari Upik, jamaah asal Bandar Lampung. Meski ada aturan larangan memberi tip kepada sopir bus salawat, tetap saja ada jamaah yang dengan suka cita ingin berbagi sedekah.
Suatu ketika Upik mencoba memberikan uang rupiah kepada sopir bus asal Arab tersebut. Sopir itu menerimanya sambil tersenyum dan berkata,
“Halal… halal…”
Karena merasa sungkan, Upik kemudian menggantinya dengan uang riyal. Sang sopir pun spontan mengucapkan,
“Alhamdulillah… Masya Allah.”
Di Tanah Suci, komunikasi ternyata tidak selalu membutuhkan bahasa yang sempurna. Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia bercampur menjadi alat komunikasi sehari-hari, terutama saat berbelanja.
Namun yang paling unik justru adalah “bahasa kalkulator”.
Evy Sri Utama, jamaah asal Indonesia, memiliki pengalaman lucu saat membeli gamis di pasar sekitar Mekah. Keterbatasan bahasa sempat membuat proses tawar-menawar berjalan alot.
Pedagang berbicara dengan Bahasa Arab, Evy tidak memahami. Saat mencoba menggunakan Bahasa Indonesia, pedagang pun bingung. Bahasa Inggris juga tidak banyak membantu.
Akhirnya keduanya menggunakan bahasa isyarat. Namun tetap saja belum menemukan kesepakatan harga. Sampai akhirnya sang pedagang mengeluarkan kalkulator.
Angka demi angka ditekan bergantian. Evy menawar, pedagang menggeleng, lalu mengetik angka baru lagi. Hingga akhirnya muncul satu kata yang sama-sama dipahami:
“Halal…”
Keduanya pun tertawa, dan transaksi selesai dengan bahagia.Karena itu, banyak jamaah menyebut kalkulator sebagai “bahasa internasional” di Tanah Suci.
Cerita ringan juga datang dari Darmawan, ketua regu jamaah asal Bandar Lampung. Pemuda energik itu pernah ditanya salah seorang anggota rombongan.
“Kenapa di Masjidil Haram tidak ada kotak amal seperti di masjid kita?”
Dengan santai Darmawan menjawab sambil tersenyum,
“Kotak amalnya banyak… itu housekeeping. Jadi kita bisa bersedekah kapan saja.”
Jawaban sederhana itu langsung mengundang tawa jamaah lainnya.
Di balik kekhusyukan ibadah haji, ternyata banyak cerita hangat tentang kemanusiaan, keramahan, dan persaudaraan lintas bangsa. Jamaah Indonesia tidak hanya dikenal karena jumlahnya yang besar, tetapi juga karena sikap ramah, murah senyum, dan gemar berbagi.
Dan di Tanah Suci, terkadang bukan bahasa yang paling penting untuk saling memahami, melainkan ketulusan hati.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah)











