DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Berbicara pelestarian hutan sebagai paru-paru dunia dan sumber kehidupan masyarakat tak ada habisnya. Sebab hutan memiliki misteri kehidupan sendiri. Manusia diberikan kehidupan sendiri yakni alam semesta disebut dunia terbingkai satu dalam senyawa kehidupan.Kemudian bagaimana kita harus hidup berdampingan dengan hutan yang didalamnya satwa serta fauna. Hutannya akan lestari jika potensi hutan dijaga dan dirawat. Sedangkan masyarakat juga memiliki kehidupan untuk ekonomi keluarga. Akan tetapi tidak harus merusak hutan, bagaimanapun hutan juga memiliki hak sama untuk kelangsungan hidup masyarakat sekitarnya, ” pernyataan tersebut disampaikan Sukatmoko Humas TNWK.

Saat tim DemokrasiNews.co.id bersambang ke TNWK, Sukatmoko menjelaskan jika selama ini berbicara kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama yakni pemangku kepentingan pemerintah terkait, masyarakat dan kita sendiri juga harus peduli hutan. Seperti hutan TNWK yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Lampung dan sudah terkenal Internasional karena memiliki fungsi jelas yakni sebagai habitat satwa dan fauna serta paru-paru dunia yang harus dilindungi bersama.
Adapun dalam pelestarian hutan Way Kambas diperlukan kerjasama antara pemerintah terkait dan masyarakat khususnya warga yang bermukim di sekitar hutan. Tentunya warga mengantungkan kehidupan ekonomi keluarga dari pertanian. Sebagian besar lahan pertanian warga sekitar berbatasan langsung dengan hutan Way Kambas. Jika dilihat nyata area pertanian warga sekitar hutan taman Way Kambas sampai hari ini produksinya cukup baik sebab ketersediaan pasokan air tercukupi dan hara kesuburan tanah juga terjaga dengan baik. Hanya saja yang menjadi persoalan kadangkala konflik antara satwa hutan Way Kambas yakni rombongan gajah masuk dalam area pertanian.
Berbicara konflik gajah atau satwa lain di taman hutan Way Kambas dengan warga sekitar sudah terjadi puluhan tahun. Wajar saja jika kita tinggal dimanapun terjadi hal yang sama,apalagi dekat hutan. Akan tetapi kita justru berpikir, bagaimana satwa tersebut kita lindungi, hutan kita lestarikan sehingga kita hidup berdampingan manusia dan hutan serta satwa di dalamnya,” kata Sukatmoko.
Selanjutnya bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan hutan serta satwanya, pertama kita peduli dahulu dengan kondisi hutan jangan merusaknya, kedua melestarikan hutan dengan menanam tanaman untuk menjaga kelangsungan kehidupan satwanya.
Melestarikan hutan itu menjadi kewajiban bersama untuk kesinambungan kehidupan anak cucu kita nantinya. Hutan dilestarikan,satwa dijaga agar nantinya anak cucu kita memahami kehidupan yang sebenarnya. Kerusakan hutan saat sudah luar biasa, bencanapun juga datang sehingga alam marah pada kita. Sebab alam itu terdiri makluk hidup salah satunya hutan disebut dengan penuh misteri. Seperti hutan Way Kambas ini dengan luas ratusan hektar, jumlah petugas hutannya terbatas sehingga diperlukan warga sekitarnya ikut menjaga dan melestarikan.
Kemudian bagaimana menjaga serta melestarikan hutan Taman Nasional Way Kambas,Sukatmoko mengajak masyarakat desa penyangga sekitar menanam tanaman hutan yang disukai satwa sehingga tidak harus konflik dengan lahan pertanian. Restorasi hutan menjadi konsep warga desa penyangga untuk melestarikan hutan konservasi. Dengan restorasi hutan sehingga beberapa tahun ini khususnya wilayah Kecamatan Labuhan Ratu, Way Jepara dan Brajaselebah tidak lagi ada konflik dengan gajah Way Kambas. Masyarakat sadar wisata desa sangat berperan dalam restorasi hutan sehingga hutan Way Kambas menjadi lestari dan menambah pendapatan masyarakat dengan konsep tersebut,” jelas Sukatmoko.
Kemudian apa itu Restorasi Hutan tunggu ulasan berikutnya tetap baca DemokrasiNews.co.id refrensi media edukasi masyarakat cerdas informasi,,,,,,,salam Redaksi. (*)
Priyono Redaksi DemokrasiNews











