DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 30 Mei 2026 — Musibah kebakaran yang menghanguskan rumah milik Ustad Fathoni di Dusun 12, Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, pada Jumat siang, 29 Mei 2026, menyisakan duka mendalam. Namun di balik peristiwa yang meluluhlantakkan tempat tinggalnya, tersimpan kisah keteguhan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang menginspirasi banyak orang.
Saat kobaran api melahap rumah semi permanen berbahan kayu miliknya, Ustad Fathoni bersama keluarga tidak berada di rumah. Mereka tengah menghadiri kegiatan pengajian rutin dan mengisi tausiyah di lingkungan masyarakat. Kabar duka itu datang dari tetangga yang menghubunginya dan mengabarkan bahwa rumahnya telah dilalap si jago merah.
“Saya mendapat kabar saat sedang menghadiri pengajian. Ketika sampai di lokasi, rumah sudah habis terbakar,” tutur Ustad Fathoni dengan suara lirih.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut menghanguskan seluruh harta benda keluarga. Perabot rumah tangga, pakaian, dokumen, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari tidak dapat diselamatkan. Namun di tengah kepedihan itu, terdapat sebuah hal yang dianggap sebagai karunia besar.
Sebuah pondok tempat mengaji anak-anak yang selama ini digunakan Ustad Fathoni untuk mendidik generasi muda justru selamat dari kobaran api. Bangunan sederhana yang menjadi pusat kegiatan pendidikan agama itu tetap berdiri kokoh di tengah puing-puing rumah yang hangus terbakar.
Bagi warga Desa Sribhawono dan sekitarnya, Ustad Fathoni bukanlah sosok asing. Ia dikenal sebagai guru ngaji, pembimbing jamaah, serta pembina berbagai kegiatan keagamaan, khususnya bagi kelompok pengajian ibu-ibu di wilayah Kecamatan Bandar Sribhawono. Karena itulah, musibah yang menimpanya menjadi perhatian luas masyarakat.
Sejak hari pertama pascakebakaran, bantuan dan dukungan terus berdatangan. Warga bergotong royong membantu membersihkan lokasi kebakaran sekaligus memberikan berbagai bentuk bantuan untuk meringankan beban keluarga Ustad Fathoni.

Gelombang kepedulian itu semakin terasa ketika pada Sabtu, 30 Mei 2026, PT Surya Nusa Setia Lampung Timur, perusahaan air mineral AWater, menyerahkan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp20 juta dan satu paket ibadah umrah.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Manajer AWater, Endang, yang didampingi Kepala Desa Nibung, Marlin Putra Kurnia, serta Kepala Desa Sribhawono, Buih Wisnu Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Ustad Fathoni menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarganya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah membantu meringankan beban keluarga kami. Mudah-mudahan hanya Allah SWT yang dapat membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, dan masyarakat sekalian,” ujarnya.
Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada pihak perusahaan AWater, Endang beserta keluarga, serta Danang selaku Manajer HS Wilayah Sumatera yang dinilainya memiliki kepedulian besar terhadap musibah yang dialaminya.
Dalam momen yang mengharukan, Ustad Fathoni mengumumkan bahwa hadiah umrah yang diterimanya akan diberikan kepada sang ibu.
“Saya di sini sebagai anak ingin berbakti kepada orang tua. Karena itu hadiah umrah dari perusahaan AWater saya serahkan kepada ibu saya untuk berangkat ke Tanah Suci. Beliau yang selama ini mendampingi dan menemani saya. Mudah-mudahan ini menjadi amal ibadah dan keberkahan bagi semua pihak yang telah membantu,” katanya.
Keputusan tersebut mengundang rasa haru masyarakat yang hadir. Di tengah kondisi kehilangan dan kesulitan yang dialaminya, Ustad Fathoni justru memilih mendahulukan kebahagiaan ibunya.
Sementara itu, Kepala Desa Sribhawono, Buih Wisnu Prabowo, mengatakan bahwa peristiwa kebakaran tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh masyarakat, terutama menjelang musim kemarau.
“Musibah ini menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak perusahaan, keluarga besar Mas Danang selaku Manajer HS Area Sumatera, serta semua pihak yang telah peduli membantu warga kami yang sedang tertimpa musibah. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan keberkahan dan membalas seluruh kebaikan yang telah diberikan,” ujarnya.
Peristiwa ini membuktikan bahwa di tengah musibah masih tumbuh nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. Ketika api menghanguskan rumah dan harta benda, kepedulian masyarakat justru menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang sedang diuji.
Kisah Ustad Fathoni mengajarkan bahwa ketulusan dalam mengabdi kepada masyarakat tidak pernah sia-sia. Saat musibah datang, bantuan dan doa dari banyak orang menjadi bukti bahwa kebaikan yang ditanam selama ini kembali hadir dalam bentuk kepedulian.
Di tengah puing-puing yang tersisa, harapan itu kini perlahan dibangun kembali. Dan dari Desa Sribhawono, sebuah pelajaran berharga tentang keikhlasan, bakti kepada orang tua, serta kekuatan gotong royong kembali mengingatkan bahwa kemanusiaan selalu memiliki cara untuk menyalakan cahaya di tengah kegelapan.( Red/Prie/Aldo )











