DEMOKRASINEWS, Arafah, 27 Mei 2026 — Wukuf di Arafah, tepatnya di kawasan Jabal Rahmah, adalah inti paling dalam dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Rasulullah bersabda:
“Al-Hajju Arafah”
“Haji itu adalah Arafah.”
Kalau seseorang tertinggal wukuf, maka hajinya tidak sah. Semua rangkaian lain masih bisa diganti atau dibayar dengan dam. Tapi jika Arafah terlewat, selesai sudah seluruh hajinya.
Karena itu, jutaan manusia datang ke Padang Arafah bukan sekadar untuk berkumpul, tetapi untuk benar-benar kembali kepada Allah.
“Rahmah” berarti kasih sayang dan ampunan.
Jabal Rahmah dikenal sebagai tempat Allah menurunkan rahmat-Nya dengan sangat luas pada Hari Arafah. Dari waktu Zuhur hingga Maghrib, langit Arafah dipenuhi doa-doa manusia yang datang dengan hati paling jujur.
Di sana, orang menangis bukan karena dunia, tetapi karena merasa terlalu banyak dosa dan terlalu kecil di hadapan Allah.
Menurut banyak riwayat, setelah diturunkan ke bumi, Nabi Adam AS dan Siti Hawa AS akhirnya dipertemukan kembali di Jabal Rahmah.
Karena itu, banyak jamaah merasa tempat ini bukan sekadar bukit batu, tetapi simbol pertemuan, pengampunan, dan harapan.
Ada yang menangis karena merasa seperti menemukan kembali dirinya.
Ada yang menangis karena merasa Allah masih membuka pintu pulang.
Di Padang Arafah pula, Rasulullah menyampaikan Khutbah Wada’, khutbah perpisahan beliau di hadapan lebih dari 100 ribu sahabat.
Isi pesannya begitu besar:
tentang tauhid, persaudaraan, hak perempuan, keadilan, dan larangan kembali kepada kebodohan setelah Islam datang menyempurnakan manusia.
Khutbah itu bukan hanya untuk para sahabat saat itu, tetapi untuk seluruh umat hingga akhir zaman.
Bayangkan jutaan manusia memakai kain putih yang sama.
Tidak ada pejabat. Tidak ada orang kaya atau miskin. Tidak ada jabatan. Semua berdiri sama di hadapan Allah.
Matahari sangat panas.Debu beterbangan. Tubuh lelah.
Tetapi tidak ada yang benar-benar sibuk dengan dunia. Semua tangan terangkat. Semua hati memohon.
“Ya Allah… ampuni aku.”
Doa-doa yang keluar bukan lagi doa hafalan. Melainkan doa paling jujur dari hati manusia yang sadar bahwa tidak ada tempat bergantung selain Allah.
Dan ketika Maghrib tiba, suasana berubah menjadi haru yang sulit dijelaskan. Tangis pecah di mana-mana.
Karena banyak yang sadar:
hari itu mungkin pertama kalinya dalam hidup mereka benar-benar berbicara dari hati kepada Allah.
Rasulullah menyebut doa terbaik di Hari Arafah adalah:
La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.
Artinya:
“Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Setelah itu, mintalah apa pun kepada Allah. Dengan bahasa apa saja. Dengan air mata sekalipun.
Karena Allah tidak menunggu doa yang paling indah bahasanya.
Allah menunggu hati yang benar-benar datang kepada-Nya.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











