DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Langit pagi di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Lampung Timur tampak cerah, seolah turut menyambut langkah-langkah para peserta upacara yang berjalan tertib, Senin (20/4/2026). Di tempat itulah, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Lampung Timur berlangsung khidmat bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi atas perjalanan panjang sebuah daerah yang lahir dari perjuangan.
Sejak resmi berdiri pada 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999, Lampung Timur terus menapaki jalannya sebagai daerah otonom dengan harapan besar: menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Berbagai unsur pimpinan daerah dan tokoh masyarakat hadir dalam upacara tersebut. Dari jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan lembaga peradilan, hingga tokoh agama dan pemuda, semua berkumpul dalam satu semangat merawat kebersamaan dan meneguhkan komitmen pembangunan.

Di tengah suasana yang penuh khidmat, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyampaikan amanat yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa berdirinya kabupaten ini bukanlah proses instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang berbagai pihak, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Pembentukan Kabupaten Lampung Timur merupakan hasil perjuangan panjang demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar pengingat sejarah, tetapi juga menjadi pelajaran penting tentang arti kolaborasi dan ketekunan dalam membangun daerah. Bahwa kemajuan tidak hadir dengan sendirinya, melainkan diperjuangkan bersama.


Dengan mengusung visi “Bersama Membangun, Rakyat Lampung Timur Makmur”, Ela bersama Wakil Bupati Azwar Hadi menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan pemerintahan yang responsif dan dekat dengan masyarakat.
“Kami akan terus bergerak cepat, tanggap, dan hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Namun, di balik komitmen pemerintah, terselip pesan yang lebih luas: pembangunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
Ajakan untuk menguatkan semangat gotong royong pun digaungkan sebuah nilai yang sejak lama menjadi fondasi kehidupan sosial di Indonesia. Di sinilah letak sisi human interest dari peringatan ini: tentang manusia, kebersamaan, dan harapan yang terus dijaga.
Momen haru juga terasa ketika penghargaan Satyalancana Karya Satya diserahkan kepada aparatur sipil negara yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun. Penghargaan itu menjadi simbol dedikasi, bahwa pengabdian, sekecil apa pun, memiliki arti besar dalam perjalanan sebuah daerah.
Di usia ke-27 ini, Lampung Timur tidak hanya merayakan pencapaian, tetapi juga meneguhkan arah masa depan. Sebuah pengingat bahwa perjalanan masih panjang, dan setiap langkah ke depan membutuhkan sinergi, kerja nyata, serta semangat kebersamaan.
Dari halaman sederhana tempat upacara digelar, tersirat harapan besar: Lampung Timur yang semakin maju, sejahtera, dan berkeadilan dibangun bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh masyarakatnya.( Red/Prie )










