DEMOKRASINEES, Halmahera Selatan – Malut, (15/2/2021). Pasca banjir Gane pada tahun 2020 lalu hingga hari ini sama sekali tidak ada respon positif dari pihak Balai Sungai dan Jembatan Provinsi Maluku Utara.
Seharusnya pasca pengajuan proposal permohonan normalisasi sungai dan pembuatan talut yang diajukan Pemerintah Desa atas rekomendasi DPRD dan Pemda Halmahera Selatan ini disikapi oleh Balai Provinsi.
Ketua FP2G, Arismunandar Ali yang juga selaku Sekdes Desa Kotaloow Kecamatan Gane Timur mengaku mengurus sendiri seluruh perlengkapan admistrasi dan menyerahkan langsung ke Balai, bahkan pihak Balai sendiri sudah melakukan survei lokasi sungai Akemumu namun sampai saat ini realisasinya tidak ada.
“Kalau respon pihak Balai seperti ini, saya selaku Ketua Front Pemuda Peduli Gane (FP2G) akan melakukan pemboikotan seluruh aktivitas atau kegiatan Balai di Wilayah Gane”, tegas Arismunandar Ali.
Sementar Husen Ilham, selaku aktivis FP2G dan pemuda Desa Foya Kec. Gane Timur turut angkat bicara, kondisi sungai Akemumu yang berada di Desa Kotaloow penting kiranya diperhatikan oleh Balai, karena ketika musim hujan luapannya merambat hingga ke Desa Foya. “Selain itu saya dan kawan-kawan tetap loyal atas kepentingan orang banyak,” tandasnya.
Ketua DPC GMNI, Sumitro K. Komdan, turut melegitimasi gerakan yang dibuat oleh kawan-kawan FP2G, “saya rasa keluhan FP2G adalah representasi masyarakat Gane Timur, kami pada prinsipnya tetap berada dengan masyarakat”, ujarnya
Untuk diketahuai hingga berita dirilis pihak Balai enggan memberikan komentar terkait normalisasi sungai Akemumu di Desa Kotaloow Kec. Gane Timur.
Selain itu juga pihak FP2G dan DPC GMNI Halmahera Selatan tetap komitmen melakukan pemboikotan aktivitas Balai di Gane.
Pewarta : Asrul Lamunu











