DEMOKRASINEWS,Lampung Timur,8 Juli 2026 – Perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Lampung tidak dapat dipisahkan dari sosok Marhasan Sanjaya atau yang kemudian dikenal dengan gelar adat Marhasan Sultan Sejagad Sealam (Marhasan SSS). Di tengah keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi pada era 1950-an, tokoh kelahiran Sukadana itu menorehkan jejak perjuangan luar biasa dalam membangun jaringan organisasi NU hingga ke pelosok Lampung.
Semangat perjuangan tersebut kembali dikenang oleh Pengurus Anak Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, melalui kegiatan ziarah ke makam Marhasan Sanjaya di Sukadana. Kegiatan yang diikuti sekitar 80 anggota Fatayat NU itu dipimpin Ketua PAC Fatayat NU Gunung Pelindung, Luluil Maratul Latifah, dengan doa bersama yang dipimpin Sekretaris Lakpesdam PCNU Lampung Timur, Kiai Deni Firawan, Rabu (8/7/2026).
Menurut Kiai Deni Firawan, ziarah tersebut bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi perjalanan spiritual untuk mengenalkan sejarah perjuangan para pendiri NU di Lampung kepada generasi muda. Ia menilai banyak kader muda yang belum mengetahui bahwa Lampung memiliki tokoh besar yang menjadi pelopor berdirinya organisasi NU di tingkat provinsi.

Marhasan Sanjaya lahir di Sukadana pada 25 November 1911. Sebelum aktif di Nahdlatul Ulama, ia dikenal sebagai seorang Inspektur Polisi yang pernah bertugas pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah sempat bertugas di Jambi dan Pagaralam, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Lampung untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.
Sekitar tahun 1953, bersama sejumlah ulama dan tokoh masyarakat, Marhasan mulai merintis berdirinya Partai NU di Lampung. Perjuangan tersebut bukan perkara mudah. Infrastruktur saat itu masih sangat terbatas. Jalan penghubung antarwilayah sebagian besar berupa tanah, rawa, dan jembatan sederhana dari batang kelapa. Kendaraan hampir tidak tersedia sehingga perjalanan ke berbagai kampung harus ditempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari.

Dalam setiap perjalanan, Marhasan memilih singgah di masjid-masjid desa. Seusai salat Magrib hingga menjelang Isya, ia berdialog dengan masyarakat mengenai pentingnya persatuan umat dan organisasi. Dari ruang-ruang sederhana itulah embrio ranting-ranting NU mulai terbentuk. Setelah sebuah desa memiliki kepengurusan, perjuangan dilanjutkan ke desa berikutnya hingga berkembang menjadi kepengurusan tingkat kecamatan dan cabang di berbagai daerah seperti Labuhan Maringgai, Sukadana, Metro, Gunungsugih, dan Way Seputih.
Pengorbanan Marhasan begitu besar. Dalam satu kali perjalanan dakwah dan konsolidasi organisasi, ia kerap meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan karena belum adanya sarana komunikasi. Namun, dedikasi tersebut membuahkan hasil. Pada 1956 ia dipercaya menjadi Ketua Partai NU Lampung Tengah. Di bawah kepemimpinannya, organisasi NU berkembang pesat dan menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang dominan di wilayah tersebut.
Ketika Lampung resmi menjadi provinsi pada 1964, Marhasan Sanjaya dipercaya sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung pertama. Kepercayaan itu lahir melalui musyawarah para tokoh dan cabang NU yang melihat kapasitas, integritas, serta pengabdiannya selama bertahun-tahun membangun organisasi dari bawah.
Di mata para sahabat dan masyarakat, Marhasan dikenal sebagai pribadi yang tegas, pemberani, tetapi tetap rendah hati dan mudah bergaul. Prinsip hidupnya, “dilawan mau, melawan berani,” menggambarkan keteguhan sikapnya dalam memperjuangkan organisasi, bangsa, dan umat tanpa meninggalkan nilai-nilai persaudaraan.
Kini, puluhan tahun setelah perjuangannya, nama Marhasan Sanjaya tetap dikenang sebagai salah satu peletak fondasi perkembangan Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bahwa membangun organisasi besar tidak selalu dimulai dari fasilitas yang memadai, melainkan dari ketulusan, keberanian, dan pengabdian yang tidak mengenal lelah. Ziarah yang dilakukan kader Fatayat NU menjadi pengingat bahwa sejarah harus terus dirawat agar nilai perjuangan para pendahulu tetap hidup dalam langkah generasi penerus.( Red/Prie/Disadur dari NU Online Lampung – Penulis Ila Fadilasari )











