DEMOKRASINEWS, Lampung Timur 23 April 2026 — Di bawah langit cerah Lapangan Merdeka, Desa Sribhawono, Kamis (23/4/2026), langkah-langkah penuh harap terdengar dari ratusan warga yang datang. Di antara mereka, para penyandang disabilitas hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai bagian penting dari arah pembangunan daerah.
Sebanyak 120 penyandang disabilitas dari berbagai kecamatan di Kabupaten Lampung Timur berkumpul dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Inklusif Disabilitas, sebuah forum yang untuk pertama kalinya memberi ruang lebih luas bagi suara yang selama ini kerap terpinggirkan.
Bagi sebagian peserta, forum ini bukan hanya agenda tahunan. Ini adalah kesempatan untuk didengar.
“Biasanya kami hanya jadi objek kebijakan. Sekarang kami bisa menyampaikan langsung apa yang kami butuhkan,” ujar salah satu peserta, dengan nada penuh harap.
Sekretaris Daerah Lampung Timur, Rustam Effendi, menegaskan bahwa Musrenbang inklusif menjadi langkah nyata menuju pembangunan yang lebih adil.
“Ini bukan sekadar forum. Ini adalah wujud komitmen bahwa pembangunan harus melibatkan semua, tanpa terkecuali,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan tidak lagi hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kesetaraan akses dan partisipasi.

Nada serupa disampaikan Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah. Menurutnya, keberadaan forum ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah mulai menempatkan kelompok rentan sebagai subjek pembangunan.
“Kami ingin memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berdaya,” katanya.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan Eco Fest Disabilitas, sebuah ruang ekspresi yang memperlihatkan karya dan kreativitas para penyandang disabilitas. Di sana, keterbatasan seolah kehilangan maknanya—berganti menjadi kekuatan yang menginspirasi.


Kerajinan tangan, karya seni, hingga produk kreatif dipamerkan, menunjukkan bahwa potensi tidak mengenal batas fisik.
“Ini bukti bahwa mereka bukan kelompok yang harus dikasihani, tetapi diberi ruang,” tambah Rustam.
Momentum ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan yang inklusif bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang cara pandang. Bahwa setiap individu, tanpa memandang kondisi, memiliki peran dalam membangun daerahnya.
Di penghujung kegiatan, harapan pun menguat—agar aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar terwujud dalam program nyata.
Sebab bagi mereka, didengar adalah awal. Dilibatkan adalah kemajuan. Dan diberi ruang adalah keadilan.(Red/Prie)











