DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Duka mendalam tak selalu berakhir dalam keputusasaan. Bagi Muhammad Suryo, seorang pengusaha rokok di Yogyakarta putra daerah asal Lampung Timur, kehilangan sang istri justru menjadi jalan untuk menebar kebaikan yang lebih luas dengan memberangkatkan ratusan karyawan ke Tanah Suci atas nama cinta yang tak lagi bisa ia sampaikan secara langsung.
Suasana haru menyelimuti pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang, ketika Muhammad Suryo kembali hadir di tengah para karyawannya. Wajah-wajah lega bercampur tangis menyambut kepulangannya setelah melewati masa kritis akibat kecelakaan lalu lintas di Kulon Progo, awal Maret 2026.
Namun, di balik kabar kesembuhannya, tersimpan kehilangan yang mendalam. Sang istri tercinta, Anis Syarifah, meninggal dunia dalam peristiwa yang sama.
Cobaan itu tak membuat Suryo larut dalam kesedihan. Ia justru memilih mengubah duka menjadi amal jariyah. Tahun ini, ia memberangkatkan 150 karyawannya untuk menunaikan ibadah umrah, jumlah yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

“Ini bentuk syukur saya dan terima kasih atas doa serta dukungan panjenengan semua. Saya mohon terus doakan istri saya agar husnul khatimah,” ucap Suryo dengan suara bergetar.
Program umrah bagi karyawan sebenarnya telah menjadi agenda rutin perusahaan. Namun kali ini, maknanya jauh lebih dalam. Setiap langkah para karyawan di Tanah Suci, setiap doa yang terucap di depan Ka’bah dan di Raudhah, diniatkan untuk almarhumah istrinya.
Kisah ini bukan hanya tentang kemurahan hati seorang pemimpin, tetapi juga tentang bagaimana cinta menemukan jalannya untuk tetap hidup, bahkan setelah perpisahan.
Di sisi lain, kepedulian Suryo terhadap karyawan juga terlihat dari komitmennya membuka lapangan kerja inklusif. Saat ini, terdapat 21 karyawan difabel yang bekerja di perusahaannya. Ia bahkan berencana membangun fasilitas mes khusus untuk mereka yang berasal dari luar daerah.
“Kami terbuka untuk teman-teman disabilitas dari mana pun. Semua punya kesempatan yang sama untuk bekerja di sini,” ujarnya.
Kabar kepulihan Suryo sekaligus program umrah tersebut disambut penuh haru oleh para karyawan. Banyak yang tak kuasa menahan air mata, mengenang momen ketika kabar kecelakaan itu pertama kali terdengar.
“Kami sangat khawatir waktu itu. Apalagi saat tahu Bu Anis meninggal dan kondisi Pak Suryo kritis. Kami hanya bisa berdoa,” tutur Sundari (63), salah satu karyawan yang pernah diberangkatkan umrah.
Hal senada disampaikan Tika (35), karyawan difabel asal Temanggung. Ia mengaku bersyukur atas kesempatan kerja yang diberikan, sekaligus terinspirasi oleh ketulusan pimpinannya.
“Karena beliau, kami punya harapan dan kesempatan untuk mandiri,” katanya.
Kisah Muhammad Suryo menjadi pengingat bahwa cinta sejati tidak berhenti pada kehadiran fisik. Ia hidup dalam tindakan, dalam doa, dan dalam kebaikan yang terus mengalir. Dari duka yang mendalam, lahir ratusan langkah menuju Tanah Suci untuk membawa doa, harapan, dan cinta yang tak pernah padam.( Red/Prie)











