DEMOKRASINEWS, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat merespons gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026). Sejak pagi hari, Presiden telah menerima laporan awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan langsung menginstruksikan langkah tanggap darurat.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden memantau situasi secara intensif dan memastikan koordinasi lintas lembaga berjalan cepat dan efektif.
Tim gabungan dari BNPB, TNI, Polri, serta pemerintah daerah langsung diterjunkan ke wilayah terdampak, termasuk Bitung, Ternate, dan Pulau Batang Dua. Proses evakuasi warga dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa disebabkan oleh aktivitas deformasi batuan dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) yang berpusat di wilayah Pulau Mayau, Kecamatan Batang Dua.
Meski peringatan dini tsunami telah resmi diakhiri, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap gempa susulan dan potensi dampak lanjutan. BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah serta 93 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,8.
Hingga laporan terakhir, tercatat satu orang meninggal dunia dan puluhan bangunan mengalami kerusakan sedang, termasuk fasilitas umum dan kantor di wilayah Manado, Minahasa, Ternate, dan sekitarnya.
Presiden menegaskan agar seluruh aparat mempercepat proses evakuasi dan memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak kembali ke bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Masyarakat diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta hanya mengakses informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait guna menghindari penyebaran hoaks.( Red/Prie/Rls BMKG )











