DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Kasus dugaan keracunan makanan di Kecamatan Sukadana terus bertambah. Hingga Sabtu (28/2/2026) pagi, tercatat 11 orang, mayoritas balita dan anak sekolah, mengalami mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi telur asin dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi tersebut disampaikan Dinas Kesehatan Lampung Timur melalui rilis tertulis yang diterima media.
Dalam laporan disebutkan, kejadian bermula pada Kamis (27/2/2026) setelah warga mengonsumsi telur bebek asin yang dibagikan dalam kegiatan uji coba program MBG di wilayah Sukadana.
Para korban mengalami gejala mual, muntah, diare, sakit perut, pusing, dan lemas. Selain anak-anak dan balita, beberapa orang dewasa juga dilaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang dari sekolah.
Sebagian korban mendapatkan penanganan medis di RSUD Sukadana, klinik setempat, serta perawatan mandiri di rumah.
Total korban sementara tercatat 11 orang, dengan rincian:
- 8 orang sempat menjalani perawatan di RSUD Sukadana
- 6 orang masih dirawat
- 3 orang telah dipulangkan setelah kondisi membaik
- 3 orang menjalani perawatan di rumah dalam pemantauan tenaga kesehatan
Data tersebut masih bersifat sementara dan terus diperbarui.
Tim UPTD Puskesmas Sukadana bersama Forkopimcam dan Polres Lampung Timur langsung melakukan penelusuran sumber kejadian, meliputi:
- Pemeriksaan kondisi pasien di RSUD Sukadana
- Inspeksi kesehatan lingkungan dapur penyedia MBG di Sukadana Ilir
- Pemeriksaan sumber air dan sanitasi dapur
- Penelusuran proses pengolahan dan distribusi makanan
- Koordinasi lintas sektor untuk investigasi epidemiologi
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Terpisah, Komandan Kodim 0429/Lampung Timur Letkol Inf Danang menyatakan dapur MBG dihentikan sementara.
“Sementara dapur kita tutup sampai hasil laboratorium keluar dan dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan dapur,” ujarnya.
Dugaan Berawal dari Kegiatan Uji Coba Program
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan pembagian makanan tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum diluncurkan secara resmi.
Program diketahui melibatkan yayasan mitra penyedia layanan gizi, namun operasional teknis disebut dijalankan pihak pelaksana lapangan.
Ketua yayasan, Dewi Fajriatul Jannah, menyatakan pihaknya tidak terlibat langsung dalam pengendalian kegiatan harian.
Beberapa kasus terjadi pada anak usia dini, antara lain:
- Balita 4 tahun warga Desa Pasar Sukadana mengalami muntah berulang dan harus dirawat.
- Seorang siswa PAUD di Sukadana Ilir muntah sekitar 10 menit setelah mengonsumsi telur asin.
- Balita asal Bumi Agung mengalami muntah sekitar 30 menit setelah makan telur asin yang dibawa pulang dari sekolah.
Kabar kejadian tersebut cepat menyebar di kalangan orang tua murid, bahkan guru sempat mengimbau siswa untuk tidak mengonsumsi telur asin dari kegiatan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola program dan instansi terkait masih melakukan investigasi untuk memastikan sumber keracunan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengumumkan hasil laboratorium guna menjamin keamanan makanan, terutama karena program tersebut menyasar anak-anak usia dini.(Red/Prie/Kms)











