DEMOKRASINEWS, Bandar Lampung – Dunia pers Lampung berduka. Pemimpin Redaksi Lampung TV, Syamsul Bahri Nasution, meninggal dunia pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.
Kepergian jurnalis senior tersebut mengejutkan banyak kolega. Sehari sebelumnya, Sabtu (14/2/2026), almarhum masih beraktivitas seperti biasa tanpa terlihat mengalami gangguan kesehatan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Syamsul sempat dilarikan ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah disemayamkan di rumah duka di kawasan Komplek Terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Sejumlah kolega, sahabat, serta wartawan lintas generasi tampak hadir memberikan penghormatan terakhir.
Rekam Jejak di Dunia Pers
Nama Syamsul Bahri Nasution bukan sosok baru dalam lanskap media Lampung. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak Agustus 1984.
Kariernya membentang di sejumlah posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi dan Manajer Lampung Post pada 1990–1999. Selanjutnya, ia mendirikan Surat Kabar Harian Trans Sumatera pada 2000–2003.
Pada periode 2008–2011, Syamsul dipercaya menjadi manajer di MNC Group. Hingga akhir hayatnya, ia memimpin Lampung TV.
Pengalamannya melintasi berbagai fase penting industri media, mulai dari era dominasi surat kabar cetak, masa transisi reformasi, hingga gelombang konvergensi dan disrupsi digital. Di setiap fase tersebut, ia dikenal menempatkan verifikasi dan akurasi sebagai prinsip utama jurnalisme.
Sosok Mentor bagi Wartawan Muda
Bagi banyak wartawan muda di Lampung, Syamsul bukan sekadar atasan, melainkan mentor. Ia dikenal terbuka berbagi pengalaman serta kerap mengingatkan pentingnya independensi dan etika dalam liputan.
Sejumlah kolega mengenangnya sebagai figur yang tenang namun tegas dalam menyikapi isu-isu publik. Ia mendorong ruang redaksi untuk tetap kritis tanpa mengabaikan kehati-hatian dalam menimbang fakta.
Kepergian Syamsul menjadi pengingat bahwa di balik dinamika industri pers yang terus berubah, terdapat sosok-sosok yang setia menjaga nilai dasar profesi. Di tengah tantangan ekonomi media dan derasnya arus informasi digital, keteladanan yang ia tunjukkan menjadi bekal penting bagi generasi berikutnya.
Syamsul Bahri Nasution telah berpulang, namun rekam jejak serta nilai yang diwariskannya akan terus hidup dalam setiap karya jurnalistik yang ditulis secara akurat dan bertanggung jawab.(Red/Prie)











