Tas di Punggung, Nyali di Sungai: Perjuangan Anak-Anak Kali Pasir Menuju Sekolah

Pagi belum sepenuhnya hangat ketika puluhan anak di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, memulai perjalanan sekolah mereka. Bukan dengan sepeda atau berjalan kaki di jalan desa, melainkan menantang arus Sungai Batanghari menggunakan rakit kayu yang telah lapuk dimakan usia.
Dengan seragam sekolah dan tas di punggung, satu per satu anak menaiki rakit sederhana tanpa pelampung dan tanpa pengaman. Mereka saling menggenggam, menjaga keseimbangan, dan berharap rakit mampu membawa mereka hingga ke seberang. Bagi anak-anak itu, menyeberangi sungai bukan petualangan, melainkan rutinitas yang sarat risiko.
Di tepi sungai, sebagian orang tua hanya bisa berdiri memandangi kepergian anak-anak mereka. Tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa. Setiap pagi, rasa cemas selalu mengiringi langkah kecil yang bertaruh nyawa demi menuntut ilmu.
Sungai Batanghari menjadi batas nyata antara rumah dan sekolah bagi warga Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto. Saat debit air naik, risiko terpeleset, rakit rusak, bahkan tenggelam, kian menghantui. Namun, keterbatasan akses membuat anak-anak tetap harus menyeberang jika ingin bersekolah.
Kondisi itu juga dirasakan para guru. Bel sekolah mungkin telah berbunyi, tetapi mereka memahami mengapa tak semua murid bisa datang tepat waktu. Bukan karena malas, melainkan karena perjalanan menuju kelas dimulai dengan melawan derasnya arus sungai.
Harapan mulai tumbuh ketika video perjuangan anak-anak menyeberangi Sungai Batanghari viral di media sosial. Perhatian publik akhirnya membuka jalan perubahan. Pemerintah Provinsi Lampung memastikan pembangunan Jembatan Merah Putih sebagai solusi akses pendidikan yang lebih aman dan layak.
Jembatan tersebut diharapkan bukan sekadar mempersingkat jarak tempuh, tetapi juga menghapus rasa takut yang selama ini menyelimuti perjalanan anak-anak menuju sekolah.
Bagi anak-anak Way Bungur, jembatan itu bukan hanya bangunan beton. Ia adalah harapan—harapan untuk belajar tanpa rasa cemas, tanpa taruhan nyawa.
Dan bagi para orang tua serta guru, jembatan itu adalah doa yang akhirnya menemukan jawabannya.(Redaksi Supriyono)











