DEMOKRASINEWS, Jakarta – Progres pembangunan jalanTol Cisumdawu yang ditargetkan selesai pada akhir 2021 ini mempunyai terowongan kembar. Terowongan kembar Cisumdawu memiliki panjang 472 meter dan lebar 14 meter.
Terowongan ini dibangun menembus bukit menggunakan teknologi New Austrian Tunneling Methods (NATM). Metode ini berguna menguatkan tanah sebelum penggalian. Sehingga memiliki kekuatan dan aman untuk dilalui.
Sedangkan proses untuk penggalian, digunakan metode three-bench seven-step, yaitu metode yang dapat menstabilkan pemuka terowongan tanpa memerlukan tambahan penyangga.
Terowongan ditutup dengan lapisan beton yang disemprotkan (Shotcrete) agar meningkatkan kohesi internal massa batuan, memperkuat galian pendukung, dan bertindak sebagai lapisan sementara maupun lapisan akhir.Pembangunan terowongan ini memakan waktu 1,5 tahun.

Selain itu Kementerian PUPR terus membangun sejumlah infrastruktur di beberapa wilayah guna percepatan akses perekonomian masyarakat setempat. Tentunya pembangunan infrastruktur tidaklah mudah karena harus melewati bukit serta pegunungan yang rawan longsor. Kemudian munculnya pertanyaan, pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana cara supaya tebing pegunungan tidak mudah longsor saat pembangunan infrastruktur.
Salah satu upaya pencegahan longsor dilakukan dengan cara Resloping, agar lereng menjadi lebih landai. Tebing diperkuat dengan teknologi Geogrid untuk menahan jatuhnya bebatuan dan Geomat sehingga dapat mengontrol erosi sekaligus menjadi media tumbuhnya tanaman.
Selain lebih aman dan melindungi jalan dari kerusakan akibat longsor, teknologi resloping juga ramah lingkungan dan berpotensi menjadi daya tarik pariwisata. Contohnya pada Jalan Kebun Kopi yang merupakan jalan akses masyarakat Palu menuju ke Parigi, Gorontalo/Manado, serta Kendari.( Hms Kementerian PUPR RI)
Tim DemokrasiNews











