DEMOKRASINEWS, Mina, 28 Mei 2026 — Perjalanan hidup merupakan proses panjang menuju kematangan dan pengabdian. Hal itu tergambar pada sosok H. Purna Irawan, M.Ag., Ph.D., seorang tokoh agama dan aparatur sipil negara yang dikenal bersahaja, lugas, berilmu, serta dekat dengan masyarakat.
Alumni pondok pesantren dan lulusan strata dua IAIN Raden Intan yang kini bernama UIN Raden Intan Lampung tersebut saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung.
Dedikasi dan pengabdiannya di bidang pelayanan keagamaan telah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan bergengsi. Pada tahun 2015, ia dinobatkan sebagai Kepala KUA Teladan Tingkat Provinsi Lampung, kemudian pada tahun 2019 meraih prestasi sebagai Kepala KUA Teladan III Tingkat Nasional.

Prestasi tersebut diraih melalui disiplin, ketekunan, dan pola kerja yang teratur serta terukur. Nilai-nilai itu tidak hanya diterapkan dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupan keluarga dan pergaulan sehari-hari.
Dengan gaya komunikasi yang sederhana, lugas, dan tutur kata yang lembut, Purna Irawan dikenal luas dan dicintai berbagai kalangan masyarakat, khususnya jamaah pengajian yang rutin mengikuti tausiyahnya.
Ro’iah Syafei, salah seorang jamaah asal Panjang, Bandar Lampung, mengaku beberapa kali menghadiri ceramah yang disampaikan Purna Irawan.
“Saya senang menghadiri ceramah beliau karena tutur bahasanya lembut, teratur, dan materi kajiannya mengena di hati. Contoh-contoh yang disampaikan juga sederhana, mudah dipahami, serta didasarkan pada ayat Al-Qur’an dan hadis,” ujarnya.
Kemampuan bergaul yang baik dan kepemimpinan yang komunikatif membuat Purna Irawan dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di berbagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Beberapa jabatan yang diembannya antara lain:
- Ketua APRI (Asosiasi Penghulu Republik Indonesia) Provinsi Lampung periode 2021–2025;
- Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kota Bandar Lampung masa bakti 2023–2031;
- Ketua Pembina FKTM (Forum Komunikasi Takmir Masjid) Bandar Lampung periode 2023–2028;
- Sekretaris LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Provinsi Lampung masa bakti 2024–2028;
- Tokoh Kerukunan Kota Bandar Lampung Tahun 2024.
Perannya sebagai Ketua FKUB Kota Bandar Lampung turut mengantarkannya dipercaya menjadi Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) Kota Bandar Lampung.
Selain pengalaman organisasi, rekam jejaknya dalam penyelenggaraan ibadah haji juga menjadi pertimbangan utama. Purna Irawan tercatat telah beberapa kali menunaikan ibadah haji, baik secara mandiri maupun sebagai petugas haji. Ia pernah berhaji secara mandiri, dua kali menjadi Ketua Kloter, serta dua kali menjadi pembimbing ibadah haji Kota Bandar Lampung.
“Tahun ini saya diamanahi oleh Bunda Hj. Eva Dwiana, Wali Kota Bandar Lampung, sebagai Tim Pemandu Haji Daerah Kota Bandar Lampung perwakilan Tokoh Kerukunan,” kata Purna.
Menurutnya, amanah tersebut bukanlah tugas ringan karena harus memastikan pelayanan dan rangkaian ibadah jamaah berjalan baik dan benar.
“Ada lima kloter jamaah haji Kota Bandar Lampung yang harus mendapatkan perhatian dan pendampingan secara maksimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, Wali Kota Bandar Lampung memberikan penekanan khusus kepada TPHD agar benar-benar mengawal kebutuhan jamaah, baik pelayanan maupun pelaksanaan ibadah selama di Tanah Suci.
Komitmen itu terlihat saat dirinya memberikan bimbingan ibadah kepada jamaah Kloter JKG 7 Bandar Lampung, khususnya terkait makna dan esensi melontar jumrah.
Dalam tausiyahnya, Purna Irawan menjelaskan bahwa pada 10 Zulhijah jamaah diwajibkan melontar Jumrah Aqabah, kemudian dilanjutkan melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada hari tasyrik.
Menurutnya, ibadah melontar jumrah bukan sekadar melempar batu kerikil ke tiang jamarat, melainkan simbol perjuangan manusia melawan sifat-sifat buruk dan godaan setan dalam kehidupan.
“Ibadah ini mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dan menekan sifat kebinatangan dalam diri. Semakin seseorang ingin menjadi lebih baik, maka tantangan hidup yang dihadapi juga semakin besar,” jelasnya.
Ia menerangkan, jumrah ula melambangkan tantangan pada fase awal kehidupan, jumrah wustha menggambarkan ujian di masa dewasa dan kematangan, sedangkan jumrah aqabah melambangkan tantangan di usia tua, ketika seseorang diuji melalui kehormatan, harta, dan keturunannya.
“Pada akhirnya, semua itu akan menentukan apakah kehidupan mendekatkan diri kepada Allah SWT atau justru menjauhkan manusia dari-Nya,” ungkapnya.
Purna Irawan berharap seluruh jamaah haji mampu meraih predikat haji mabrur setelah kembali ke Tanah Air. Menurutnya, kemabruran haji dapat dilihat dari perubahan sikap dan perilaku seseorang menjadi lebih baik setelah menjalankan ibadah haji.
“Salah satu tanda kemabruran adalah kemampuan untuk terus berbuat baik dan menebar kebaikan di mana pun berada,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa keteladanan Rasulullah Muhammad SAW merupakan rujukan utama dalam kehidupan umat Islam.
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik,” katanya mengutip ayat Al-Qur’an.
Di akhir tausiyahnya, Purna Irawan berharap seluruh jamaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kelancaran ibadah, serta kembali ke Tanah Air dengan semangat dan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.( Red/Laporan Agustobationo dari Mina )











