DEMOKRASINEWS, Mina, 28 Mei 2026 – Suasana Mina dipadati sekitar 1,5 juta jamaah haji yang menjalani prosesi lempar jumrah pada puncak ibadah haji 2026. Ritual ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji sebagai simbol melawan godaan setan sekaligus memperkuat keteguhan iman.
Di tengah lautan manusia yang bergerak menuju Jamarat, Terowongan Mina menjadi jalur vital yang dilalui jutaan jamaah dari berbagai negara. Lorong panjang itu bagaikan jembatan dunia yang membelah bumi, tempat jutaan hati melangkah dalam satu tujuan: mencari ridha Allah SWT.
Di sana, semua tampak sama. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua berjalan berdampingan mengenakan pakaian ihram putih, membuktikan bahwa di hadapan Allah yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Namun di balik kekhusyukan ibadah tersebut, masih ditemukan banyak jamaah yang kurang mendapatkan edukasi terkait persiapan fisik selama berhaji, khususnya saat berada di Mina, Arafah, dan Muzdalifah.
Salah satu yang paling sering ditemui adalah masih banyak jamaah menggunakan sandal jepit ketika menempuh perjalanan jauh menuju lokasi lempar jumrah. Padahal, kondisi tersebut sangat tidak dianjurkan karena dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan jamaah.
Selama puncak ibadah haji di Mina, aktivitas terbesar jamaah adalah berjalan kaki. Banyak jamaah harus menempuh perjalanan lebih dari 3 hingga 5 kilometer sekali jalan, tergantung jarak antara tenda Mina dengan Jamarat. Bahkan sebagian jamaah dari berbagai negara tidak seluruhnya mendapatkan fasilitas transportasi sehingga harus berjalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah, lalu kembali ke Mina.
Perjalanan itu tidak hanya dilakukan sekali. Setelah wukuf di Arafah, jamaah masih harus berjalan bolak-balik menuju Jamarat selama dua hingga tiga hari berturut-turut untuk melaksanakan lempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Dalam kondisi seperti itu, penggunaan alas kaki yang nyaman dan kuat menjadi sangat penting. Sandal jepit dinilai kurang aman karena mudah putus saat terinjak padatnya arus jamaah. Jika sandal putus di tengah perjalanan, jamaah berisiko mengalami luka melepuh hingga gangguan serius pada kaki akibat suhu jalan yang sangat panas.
Cuaca ekstrem di Mina menjadi tantangan tersendiri. Suhu siang hari dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Aspal dan lantai jalan yang terkena terik matahari bisa memicu rasa panas berlebihan pada telapak kaki jamaah yang menggunakan alas kaki tipis.
“Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius. Jamaah perlu diedukasi sejak dini agar memiliki persiapan fisik dan perlengkapan yang matang demi kenyamanan dan keselamatan ibadah,” ujar salah satu petugas haji Indonesia.
Pemerintah Arab Saudi sendiri terus melakukan pembenahan besar di kawasan Mina dan Jamarat. Terowongan Mina kini dilengkapi sistem ventilasi modern, pendingin udara, pencahayaan memadai, hingga jalur khusus untuk mengatur arus jamaah agar tidak terjadi penumpukan.
Sistem jalur searah diterapkan secara ketat untuk menghindari kepadatan ekstrem. Jamaah juga diimbau tidak melawan arus dan tetap mengikuti petunjuk petugas demi keselamatan bersama.
Sejarah kelam Tragedi Mina 1990 menjadi pelajaran penting bagi dunia. Saat itu, ribuan jamaah wafat akibat penumpukan massa dan gangguan ventilasi di dalam terowongan. Peristiwa tersebut mendorong pemerintah Arab Saudi melakukan modernisasi besar-besaran terhadap fasilitas haji.
Kini, berbagai pos layanan kesehatan dan Mobile Crisis Rescue (MCR) disiagakan di sejumlah titik untuk membantu jamaah yang kelelahan, sakit, maupun lansia.
Petugas haji juga terus mengingatkan jamaah agar menjaga kondisi tubuh, membawa air minum yang cukup, serta menggunakan alas kaki yang layak selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Di tengah teriknya cuaca dan padatnya jutaan manusia, gema talbiyah terus terdengar menggema dari berbagai penjuru Mina.
Labbaik Allahumma Labbaik…
Kalimat suci itu mengiringi langkah-langkah para tamu Allah yang datang dari seluruh penjuru dunia, membawa harapan dan doa agar perjalanan spiritual mereka berakhir dengan predikat haji mabrur.( Red/Laporan Agustobationo dari Mina )











