DEMOKRASINEWS, Mina, 27 Mei 2026 — Setelah menjalani wukuf di Padang Arafa, jutaan jemaah haji melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit, salah satu rangkaian wajib haji yang sarat makna spiritual.
Mabit merupakan aktivitas bermalam atau singgah sejenak bagi jemaah haji di kawasan Muzdalifah setelah pelaksanaan wukuf pada 9 Zulhijah. Dalam syariat haji, mabit termasuk wajib haji sehingga jemaah yang meninggalkannya dikenakan dam atau denda.
Pelaksanaan mabit dimulai setelah matahari terbenam hingga melewati tengah malam atau menjelang fajar. Di tempat terbuka itu, jutaan jemaah dari berbagai negara berbaur dalam suasana sederhana namun penuh kekhusyukan.

Beralaskan bumi dan beratapkan langit, jemaah memperbanyak zikir, doa, istigfar, dan membaca Al-Qur’an. Selain beristirahat sejenak, mereka juga mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan untuk melempar jumrah di Mina.
H. Ikhsan dari KBIHU Safir Madina mengatakan pelaksanaan mabit tahun ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu jemaah masih mabit langsung di tanah sehingga dianjurkan membawa tikar atau sajadah sendiri. Tahun ini sudah banyak perubahan. Area mabit diberi alas karpet sehingga jemaah merasa lebih nyaman,” ujarnya.
Menurut Ikhsan, pengaturan murur atau pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina juga berjalan lebih tertib dan lancar.
Setelah melewati tengah malam, jemaah mulai diberangkatkan menuju Mina untuk melaksanakan lempar Jumrah Aqabah.
Rombongan tiba di Mina menjelang Subuh. Usai melaksanakan salat Subuh, para jemaah dianjurkan beristirahat sebelum dijadwalkan melontar jumrah sekitar pukul 10.00 Waktu Arab Saudi.
“Beruntung tenda kami dekat dengan terowongan Mina sehingga cukup menguntungkan,” kata Ikhsan.
Meski jarak menuju lokasi lontar jumrah hanya sekitar dua kilometer, perjalanan dapat memakan waktu hingga dua jam akibat padatnya arus jemaah dari seluruh dunia.
Momentum lempar Jumrah Aqabah menjadi salah satu puncak emosional dalam rangkaian ibadah haji. Setelah melontar jumrah, jemaah kemudian melaksanakan tahalul sebagai tanda berakhirnya sebagian larangan ihram.
Sebagian jemaah melakukan tahalul di sekitar lokasi jumrah, sementara lainnya memilih melakukannya di tenda agar lebih nyaman.
Ahmad SR, Ketua Regu 6, mengaku merasakan kebahagiaan batin setelah menjalani tahalul.
“Rambut yang tadinya panjang menjadi mahkota, kini menjadi gundul,” ujarnya sambil tersenyum kepada rekan-rekannya.
Dengan wajah lega dan penuh harap, Ahmad pun berucap, “Semoga kita semua menjadi haji yang mabrur.”
Pelaksanaan tahalul umumnya dilakukan secara sederhana dan penuh kebersamaan. Antarjemaah saling membantu mencukur rambut secara bergantian di tenda-tenda Mina.
Karena dilakukan secara mandiri, hasil cukuran pun terkadang tidak rapi. Namun suasana itulah yang justru menghadirkan cerita hangat dan penuh kekeluargaan di tengah perjalanan ibadah yang melelahkan.
“Jangan heran kalau hasilnya belang-bonteng, karena yang memotong rambut memang bukan ahlinya,” canda salah seorang jemaah disambut tawa rombongan.
Di balik kelelahan fisik, perjalanan dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina menjadi pengalaman spiritual yang membekas mendalam bagi para jemaah. Setiap langkah, doa, dan pengorbanan seakan mengajarkan makna keikhlasan, kesabaran, dan persaudaraan umat Islam dari seluruh penjuru dunia.( Red/ Laporan Agustobationo dari Makkah )











